Sudah memasuki akhir juni! Sudah memasuki hari kelima Ramadhan. Bagaimana Ramadhan kali ini? Ini Ramadhan kedua sebagai Apoteker. Capeknya beda ya dengan jaman kuliah dulu. Kalo dulu abis kuliah sampe jam 3, mesti langsung kabur ke Mardliyyah, ikut kajian sore. Kalo kuliahnya agak siang, abis subuh siap-siap kajian pagi. Sekarang? Hfft..

Tarawih pertama dan kedua abis jaga pagi, pulang jam 4 sore dari RS, abis maghrib tepar. Bangun jam 9, akhirnya tarawih sendiri. ūüė¶

Ramadhan pertama, waktu setelah dzuhur menjadi waktu efektif para karyawan stay di Masjid untuk memperbanyak tilawah.

“Enak ya, Mbak. Temen-temen unit lain bisa tadarusan dulu. Kalo farmasi¬†sih¬†sudah ditunggu pasien.” Kata salah satu rekan kerjaku.

 

Ramadhan kedua, jaga siang di Poli Lt. 3, Alhamdulillah pasiennya nggak terlalu banyak, jadi bisa tilawah 1 juz sambil nunggu Maghrib. Kesempatan yang langka jika kerja di tempat lain, mungkin. Teman-teman satu shift juga begitu khusyuk membaca Al-Qur’an. Pemandangan yang jarang terlihat di hari-hari biasa.

Lepas maghrib, ketika bersiap untuk tarawih, bagian IP mengabarkan bahwa dokter spesialis bedah dalam perjalanan. Kami menunggu dengan tidak sabar, sambil berdoa supaya dokternya datang habis tarawih saja.

Azan Isya’ terdengar, dokternya belum datang. Kami bertiga yang bertugas bergegas¬†keluar ruang farmasi, menutupnya dan menitipkan kunci ke bagian kasir. Kemudian masuk lift. Ting! Pintu lift terbuka, aku sudah keluar menuju farmasi UGD, tiba-tiba muncul mobil dokter bedah di depan pintu masuk UGD.

“Mbak Ne. Ayo naik lagi.”

“Yaah.. ”

Dan kami semacam menjemput dokter yang datang.

 

“Dok, mbok tarweh sik,” ujar Mbak Ria, Asisten Apoteker senior yang sudah mengabdi sejak RS dibuka.

“Meh tekan jam piro?” jawab pak dokter. “Aku kesel e, rung buko. Ngur mbatalke.”

Mau sampe jam berapa emang? Aku capek belum buka, baru sekedar membatalkan puasa. Ah, ya. Dokter mah gitu orangnya. Dilema. Sekedar menyempatkan berbuka saja tidak sempat. Dari satu tempat praktek ke tempat praktek lain, capek di jalan, sudah ditunggu pasien.

 

Benar saja, keluarnya kami dari lift, wajah letih para pasien terlihat lega.

 

**

Dan akhirnya, ketika teman-teman shift siang sudah pulang, aku tarawih sendiri lagi, di ruang farmasi UGD. Menemani petugas jaga malam.

 

Ramadhan ketiga, jaga siang kali ini di farmasi induk. Pelayanan lumayan lancar, ketika azan, kami map pasien sudah selesai di-entry, sehingga kami bisa buka sambil menyiapkan obat. Aku tau keranjang obat yang sudah bisa diserahkan sudah menumpuk. Maka kupercepat makanku, dan segera kudirikan sholat maghrib.

Usai maghrib, aku menyerahkan obat sambil sesekali pasien menanyakan obatnya sudah atau belum.

“Iya, pak. Sudah jadi. Ini saya panggil sesuai urutan ya, Pak.”

Begitulah, akhirnya semua pasien rawat jalan sudah selesai dipanggil. Tumpukan resep rawat inap sudah menumpuk, tapi sudah azan isya’. Hmm..

Seorang perawat bangsal kelas I menelpon, menanyakan obatnya sudah bisa diambil belum? Sudah, jawabku.

Sayang sekali, jika kali ini lagi-lagi terlewat sholat isya’ dan tarawih berjama’ah, pikirku. Maka selesai menyerahkan obat pada perawat, aku pamit pada teman-teman untuk ke masjid. Biarlah resep rawat inap di-handle mereka saja.

Penceramah dan imam kali ini salah satu Tim IT. Walaupun beliau terlihat kocak, tapi gitu juga Ustadz (peace, Pak). Beliau salah satu ustadz favorit di kalangan karyawan, suka menyampaikan materi mentoring dengan bercerita. Materi ceramahnya tentang keutamaan Al-Qur’an di bulan Ramadhan dan bagaimana pengaruh Al-Qur’an membuat banyak orang menjadi mualaf.

Satu hal yang membuatku terenyuh. Ketika beliau menjadi imam, anaknya minta gendong. Demi apa?

 

Ramadhan keempat, petugas sahur cuma masak nugget dan menyiapkan yogurt. Dan itu membuat teman-teman tidak semangat. Aku akhirnya masak mie goreng. Yaelah, baru hari ke-empat, udah lesu. *sigh*

Habis subuh aku membuat farewell greeting, semacam kenang-kenangan untuk teman, mencuci dan pergi ke forum pekanan sampai dzuhur. Lepas dzuhur istirahat dan abis ashar membantu yang piket masak.

Tarawih kelima akhirnya bisa di masjid dekat kosan.

 

Ramadhan kelima, alhamdulillah, yang piket sahur masak sop dan Fuyunghai, daebak!

Hari ini masuk siang jadi pagi bisa istirahat sebelum menghadapi Senin sore yang biasanya rame. Doakan nanti bisa tarawih di masjid ya!

 

Salima, 5 Ramadhan 1436 H/ 22 Juni 2015, 12:42

Advertisements