Loratadine

Just enjoy, let it flow~

Hi, May! — May 13, 2015

Hi, May!

Kapan?

Mei..

Maybe yes,

Maybe no..

Masih inget iklan itu?

Hehe.. jaman kapan?

Alhamdulilah, Rajab sudah hampir berakhir. Sya’ban segera menjelang. Ramadhan sebentar lagi!

Aktivitas sebagai Apoteker semakin banyak, orderan wrapping dari orang terdekat mengisi waktu luang. Beberapa bulan terakhir, aku terlibat dalam beberapa komunitas serupa; baca, diskusi, tulis. Lelah? Yah, sedikit. Tapi, paling tidak setiap detik yang berlalu tidak berakhir sia-sia.

Mei ini akan banyak event bahagia dari rekan-rekan, 4 undangan Pejuang07 di hari yang sama (15-16 Mei), 1 undangan dari sahabat di Forsat07 JS (17 Mei), wisuda sarjana pejuang (19 Mei). Dan insyaallah beberapa kabar lainnya.

Adhiyyat sedang opname, insyaallah segera berpindah tangan. 😦 Belajar ikhlas, semoga bahagia dengan owner yang baru 🙂

Asyaro semakin jarang dipake, biasanya untuk nelpon atau nyetel radio doang ^^v

Sony semakin overload, sampe pernah ngehang gara-gara kartu As dituker dengan yang XL, akhirnya direset n install ulang program favorit. Kebanyakan foto sampe stress dianya. Hoho.

Ah, ya, kemarin Ahad (10/5) abis kondangan di Kalasan, aku buka stand bareng Filla’s Craft dan Ken Fabric Painting di Etnika Fest Pasar Ngasem. Lumayan buat piknik.

DSC_0005DSC_0009

DSC_0008

Ya gini kalo anak para Psikolog ketemu Apoteker:
PhotoGrid_1431276849185

Bukannya rame marketing, malah sibuk piknik. Haha..

Apapun, semoga kesibukan berhari-hari kedepan tidak mengurangi fokus persiapan Ramadhan. Happy Reading!

Salima, 13 Mei 2015, 00:24

Advertisements
Sastra Santun; Sebuah Gerakan Anti-mainstream — January 20, 2015

Sastra Santun; Sebuah Gerakan Anti-mainstream

Sastra merupakan karya yang menjadi ciri khas bangsa. Kemajuan budaya sering dikaitkan dengan sastra. Sastra di Indonesia mulai berlangsung setelah bangsa Indonesia berkenalan dengan kebudayaan asing, yakni kebudayaan Hindu, Islam, dan Barat.  Ada berbagai macam sastra, yaitu sastra klasik, kontemporer, modern,  pop, dll.

Berawal dari sebuah kajian bertema Sastra Santun di Jogja Islamic Book Fair beberapa waktu lalu, rekan-rekan Melimove sepakat untuk menjadikan tema ini sebagai bahasan diskusi di grup Whatsapp.

Alhamdulillah, Ahad, 18 Januari 2015 telah dilaksanakan diskusi dengan menghadirkan Mbak Yeni Mulati atau yang dikenal sebagai Mbak Afifah Afra sebagai pemantik diskusi. Beliau tentu tidak asing lagi di kalangan penyuka fiksi islami. Mbak Afra bergabung di Forum Lingkar Pena FLP sejak 1999. Pernah menjabat sebagai Ketua FLP Cabang Semarang, lalu Ketua FLP Wilayah Jawa Tengah, dan sekarang diamanahi sebagai Sekjen Badan Pengurus Pusat FLP (2013-2017).

Apa itu sastra santun? Sastra santun lebih dikenal dengan istilah sastra islami atau sastra profetik. Mengingat kedua istilah itu terlihat sangat “khusus”, maka dipilih kata “santun” untuk membangun kesan yang lebih universal.

Sastra arus utama/mainstream sekarang didominasi pada sastra berupa narasi minoritas dan pendobrakan hal-hal yang dipandang tabu. Cenderung pro antikemapanan. Karena semangatnya mendobrak hal-hal tabu, misal seks, maka mereka justru mengangkat tema tentang seks secara vulgar. Jika yang menulis adalah perempuan, derajatnya dua kali lebih keren. Seks adalah tabu diungkap di ruang publik, yang mengungkap perempuan, lebih tabu lagi. Maka, ketika muncul para perempuan yang menulis seks dengan sangat vulgar, dianggap “hebat kuadrat”. Jika tema-tema seperti ini menjadi tren, tentu akan berpengaruh pada perkembangan budaya masyarakat Indonesia. Harapannya sastra santun menjadi antitesa dari aliran arus utama tersebut.

Kriteria sastra santun, antara lain:

  1. Mengusung ide-ide kebaikan dan mencerahkan;
  2. Bahasa lembut dan sopan;
  3. Bahasa indah namun mudah dipahami dan sesuai dengan audiens;
  4. Tidak vulgar dan mengandung unsur-unsur yang melanggar norma.

Gerakan sastra santun ini punya “ambisi besar”yaitu:

1) Mendekonstruksi pemahaman tentang sastra yang akhirnya cenderung sesuai dengan pemahaman mainstream.

2) Menjadi mainstream sendiri dengan “pranata sastra” yang juga kuat. Misalnya, ada lomba sendiri, award, writer and reader festival (semacam khatulistiwa literary award), dst.

Untuk tujuan ini, FLP sebagai inisiator akan mengajak pihak-pihak yang memiliki visi yang sama. FLP akan back up penuh karya-karya yang bisa menjadi bagian dari sastra santun mulai dari proses kepenulisan hingga promosi.

Sastra santun merupakan pengembangan dari sastra Islami. Dalam hal isi, harapannya pada sastra santun, keislaman muncul sebagai substansi. Bukan sekadar kulit. Cara pengemasan juga harus semakin bagus. Sastra memiliki kaidah-kaidah yang “harus dipatuhi”. Para penulis sastra santun harus belajar mengemas karya sebaik mungkin.

Di perbukuan, setelah penulis, satu-satunya “pintu” bisa jadi hanya editor.  Kadang di penerbit tidak ada mekanisme cross check dari bagian selain redaksi. Dari pemerintah memang ada penilaian dari Diknas, tapi sifatnya tidak wajib. Jadi, memang sangat mengerikan karena nyaris tidak ada saringan.

Bahkan, display di toko buku pun tidak dibatasi. Maka, tidak heran jika banyak novel yang tidak sesuai kategori umur. Novel-novel asing yang diterjemahkan untuk dewasa bebas dibaca remaja. Buku-buku sejenis itu juga banyak didapat di perpus milik pemerintah. Pernah ditemukan buku-buku jenis itu di Perpusda Kabupaten Bintan. Setelah dikonfirmasi ke petugas, mereka tahunya itu kiriman dari pusat.

Nantinya, penulis yang menandatangani “kontrak sastra santun”, terikat secara moral untuk menulis sesuai kontrak. FLP juga akan bergerak ke penerbit-penerbit untuk ikut bergabung. Peran kita sebagai pembaca juga harus melakukan advokasi. Kalau kita membiarkan buku-buku yang tidak sesuai norma beredar, mungkin kita sendiri yang ikut mengkonsumsi dan lama-lama sensitivitas kita akan berkurang.

Sastra santun ini bentuk ke depannya bukan organisasi, tetapi gerakan. FLP akan mengajak organisasi-organisasi kepenulisan lain, juga penulis mandiri yang sevisi, utk bergabung. Gagasan ini masih sangat mungkin dikembangkan. Grand launchingnya insyaAllah November 2015. Nanti ada semacam Ubud Writer and Reader Festival di Makassar, mungkin 3 hari. Siap-siap nabung!

Setelah launching, penulis dan penerbit yang bergabung, menyepakati, lalu berkarya sebanyak-banyaknya dan sebagus-bagusnya. Selain itu, anggota gerakan sastra santun bisa memberikan edukasi ke masyarakat, toko buku dan penerbit. Atau bahkan ke pemerintah untuk membuat ketentuan yang lebih ketat lagi.

Apalagi sekarang mulai muncul banyak penerbit indie. Proses editing hanya pada penulis, bukan di penerbit. Gerakan sastra santun ini belum akan bergerak di controlling. Entah nantinya, karena pasti akan sangat sulit realisasinya. Tetapi, kalo kita bisa meyakinkan pemerintah untuk memperbaiki regulasi perbukuan, itu bisa diantisipasi. Jika regulasi perbukuan kuat, tugas kita akan menjadi lebih mudah. Mestinya ini memang tugas pemerintah. Kita tentu ingin agar karya-karya kita tetap tidak melanggar batas-batas norma.

Ah, dua jam tidaklah cukup membahas tuntas tentang sastra. Sebagai penutup, mbak Afra mengingatkan bahwa, “Pada prinsipnya manusia itu makhluk rabbaniyyah. Mereka akan menyukai karya-karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerahkan. Menjadi penulis yang rabbaniyyah bukan sekadar kita bisa menggerakan pena untuk merangkai kata-kata yang bagus. Tetapi juga menyusupkan ruh. Bukankah ketika Allah menghendaki kebaikan datang dari kita, tangan kita sebenarnya sedang “Dipinjam” Allah untuk menjadi lantaran hidayah?

Salima, 19 Feb 2015, 22:32

edisi revisi tulisan

Cooking Treatment — September 6, 2013

Cooking Treatment

Aku ingat waktu jadi relawan erupsi Merapi 2010, ibu-ibu pengungsi di lingkungan Cangkringan terlihat lebih bahagia daripada yang di posko SD Pogung Dalangan. Why? Katanya si karena ibu-ibu di Cangkringan disibukkan dengan aktivitas masak. Entahlah, tidak ada data valid tentang itu dan aku memang tidak membuat risetnya.

Seminggu berlalu usai sumpahan. Status #JobSeeker masih kusandang. Aku sudah memasukkan ke 2 tempat; 1 apotek dan 1 rumah sakit. Mungkin usahaku belum maksimal. Beberapa kali ortuku meng-sms menyuruhku mengecek syarat-syarat cpns. Ada satu-dua syarat yang mengganjal yang membuatku belum beranjak mengurusnya. Apa mau daftar atau tidak, ah, aku harus istikhoroh dulu.

Okai, back to the topic. Dalam seminggu ini aku hampir setiap hari memasak.

Ahad (1/9),

Sebelum mengantarkan berkas lamaran ke sekitaran Bantul, aku mampir di Salima. Aku sudah bilang kan kalo Salima sudah pindah ke Lempong Sari, sekitaran Jl. Monjali? Nah, aku menyuruh Rence untuk merendam pempek keriting kering selama 2 jam. Lepas maghrib aku beli makan di SS Colombo. Tentu saja pempek tidak akan membuatku kenyang. Maka aku tetap beli nasi.

Senin (1/9)

Desy: Ne, gw mw beli gas. Mari qt masak tekwan.

Me: Tekwannya mesti direndem dulu. Bsk sore aja ya qt masaknya. Kasi tau anak2 ASC* yak.

*Akhwat Sari Club

Selasa (2/9)

Abis bantuin mbak M beres-beres Apotek AW, aku mampir ke kosan, ngambil rendaman tekwan. Ternyata Rika ada di kosan. Yasudah, jadinya kami berdua ke Mirota Kampus untuk beli bumbu-bumbu yang diperlukan. Pengennya cepet si, jadi gak beli bahan di pasar.

Sesampainya di parkiran dekat kosan Desy, kami bertemu Intan Juju. Maka kami bertiga segera naik ke kos Desy. Ternyata sudah ada Yessy dan Tanti. Vhe sedang ada agenda. Nurul lagi maen ke rumah temennya. Dian, yah, agak susah tuh ndoro putri keluar malem. Dwinna juga lagi nggak bisa. Hampir isya’ Mita mipa nyusul untuk jadi spesialis cuci piring.

Yon's10229

Tekwan
Tekwan

Rabu (4/9)

Kuah tekwannya masih banyak, padahal bijinya udah abis. Ba’da ashar aku nyebrang ke Superindo Jakal. Beli rolade, tahu, tempe, wortel, kentang, tomat, jamur, dan pisau. Haha, jadi ceritanya pisauku pernah dipake pas ada dauroh gitu dan sampe sekarang belum balik. Sementara pisau kosan ketinggalan di kosan temen adek kosku. Yasudah, daripada motong sayur pake sendok kan?

Di kosan nggak ada kompor, that’s why aku kemaren masak tekwan di kosan Desy. Nah, kalo cuma masak sop sih pake rice cooker juga bisa. Untuk membantuku menghabiskan sop warna-warni itu, aku mengundang para peserta Tekwan Party kemarin. Tapi hanya Kak Yuki dan Nurul yang berhasil datang.

Kamis (5/9)

Setelah lelah sepagian memilah kertas-kertas, aku menuju ke Apotek AW. Pilah-pilahnya belum selesai sih, nunggu satu juta tahun dulu kali ya baru beres. Salut deh sama Mbak M, (insyaallah) ahad besok (8/9) belio mau nikah, tapi masiiii aja ngurusin beres-beres apotek. Haalooo.. udah H-3 tapi mbaknya belom mau dipingit. Wew.

Sekitar jam 5, kami meluncur ke Apotek UGM untuk mengantar aset yang bisa diselamatkan. Usai menyapa mbak Rina, aku pamit duluan, sementara mbak M masih ngobrol. Padahal belio mau pulang ke Klaten.

Kalian tau aku mau ke mana? Yah, ke mana lagi kalo nggak ngerusuhin dapur Desy (lagi). Ketika aku datang, Desy dan Vhe sedang terlibat pembicaraan serius. Tanpa banyak basa-basi aku menuju dapur dan mulai memasak. O,y, jangan dikira aku pandai memasak ya. Aku hanya sedang malas makan. Karena aku tipe orang yang tidak suka mubazir, maka se-tidak-enak-apapun masakanku, mau nggak mau harus kuhabiskan.

Yon's10244

Jum’at (6/9)

Semalam ketika aku masih di kos Desy, Rika ngasih tau kalo bu kos ngasi besek kenduren. Nah, karena aku sudah kenyang, maka sepulang dari kos Desy, aku tak menyentuh besek. Hanya menengok apa saja isinya. Hihi.. Lalu, aku mengundang pasukan bimo untuk sarapan bareng.

Maka jadilah tadi pagi mereka kusuguhi oseng-oseng rolade- tahu-wortel dan sambal tempe-kentang masakanku semalam serta ayam goreng, bihun dan sambal goreng serta nasi kenduren. Sayangnya karena semalam nasi dan bihun tidak langsung masuk magic jar, rasanya jadi agak-agak aneh.

Anak-anak kosan langsung berangkat tanpa menyempatkan sarapan. Aku tak bisa membayangkan semua isi besek kenduren harus kuhabiskan sendirian. Usai dzuhur, aku menengok sambal goreng dan ayam yang masi tergeletak di meja. Ah, mau diapakan ini?  Rika sedang sibuk di kamar ngerekap data. Yasudahlah, aku pakai saja rice cookernya (lagi) untuk membuat oseng-oseng ayam sambal goreng kenduren. Haha..

Yon's10258

Kentungan, 6 September 2013, 21:42

 

 

Dua Minggu yang Baru — April 19, 2013

Dua Minggu yang Baru

Assalamu’alaikum~

Halo pemirsa… Apa kabar?
Ehehe.. berasa udah lamaaaaa banget nggak menyapa. Maklum, jadwal manggung padat merayap.*sok sibuk

Oke deh, kali ini aku mau cerita tentang dua pekan pertama di jogja.

Hari ini jam segini dua minggu yang lalu adalah waktunya aku dan Rika duduk berbagi cerita di bangku panjang stasiun Senen, menunggu kereta Progo AC yang akan bertolak ke Jogja.

Banyak pengalaman yang kudapat di Jakarta. Hingga aku bisa memandang Jogja dengan cara yang berbeda. #eaa
Tepat pukul 08.00, aku dan Rika mendarat di Stasiun Lempuyangan membawa segenggam cita-cita baru untuk beberapa bulan ke depan. Diiringi tentengan di kanan-kiri-depan-belakang, kami berjalan keluar stasiun menunggu sahabat yang selalu setia setiap saat menjemput kami. Sebut saja Nurul dan Erna.

Sesampainya mereka berdua di hadapan kami, tanpa membuang waktu kami segera bergegas menuju “rumah”.
Hari itu aku langsung bertemu dengan 2 kelompok binaanku, kondangan ke nikahan temanku dan reunian dengan geng Muda Berseri. Malem mingguan triple date dong.  #upss

Ahad pagi yang cerah, sayangnya aku tepar hampir setengah hari. Sebenarnya pagi itu ada Seminar Al-Qur’an di UIN, tapi kakiku semacam tidak bisa digerakkan. *halah

Maka setelah dzuhur hingga maghrib aku memaksa diri untuk hadir di suatu forum. Setelah itu, aku mulai bertugas menjaga stand di Wanitatama hingga lonceng Cinderella berbunyi. Dan kegiatan itu berlanjut pada senin hingga rabu malam.
Ah, ya, aku sudah pernah cerita kan kalo jadi freelancer di sebuah online shop? Sebenarnya aku diminta untuk jadi admin webnya, tapi nggak keurus deh, susah bo bagi waktu kerja, kuliah dan amanah. Akhirnya aku bantu-bantu jaga stand kalo Giant bikin event aja.

Kamis~
Setelah tiga hari empat malam bekerja keras, alhamdulillah aku mendapat fee yang lumayan.. Lumayan buat makan, nonton Madre, beli bensin, beli buku, hehe.. asyik deh yak.. Tak lupa bayar urunan buat Memoar07. Doain dong tuh memoar cepet terbit.

Jumat~
Pagi-pagi liqo’, truz jam 9 sarapan bareng dong, dalam rangka menyambut Intan Esa putri yang sedang mengurus passport di Jogja. Jauh-jauh dari Sulawesi, masa dicuekin? Nah, pas jumatan aku janjian sama binaan, daaaan.. dari 6 orang yang datang cuma seorang sodara-sodara! Yasudah, kesempatan pedekade. Haha.. Abis dzuhur aku istirahat di kosan. Abis ashar dugem lagi dong, dari 6 yang izin cuma seorang. Alhamdulillah.

Sabtu ahad aku ada event lagi di daerah utara. Tempatnya bagus deh. Airnya kayak air di Cisarua. Dalam event itu, aku bertemu seorang Umi yang bertanya tentang kerjaanku yang laen. Nah, lho, pada inget Crescendo Craft nggak? Ehehe.. Aku multi talent banget ya? Aku suka belajar banyak hal, dan belum fokus di suatu bidang. Padahal kalo aku fokus, mungkin akan bisa berkembang luas. Sekarang si masi suka maen, jadi belum serius-serius amat nggarapnya. Jadi, senin itu aku membeli bahan untuk membuat sampel orderan Umi.

Crescendo berdiri dengan digawangi 8 orang yang terdiri dari empat ikhwan dan empat akhwat. Tiga yang sudah lulus, dua diantaranya sekarang menjadi kuli ibukota, satunya belum selesai profesi. Dengan jumlah personil hanya enam orang, kami merekrut 2 orang lagi. Aku, dengan kondisi akademik yang cukup padat, agak sulit untuk terlibat dalam proyek outbound. Maka aku difokuskan untuk mengelola craft.

Seperti yang sudah diketahui, bahwa kerja sendiri agak kewalahan. Aku melihat peluang craft kedepan akan cukup besar. Maka aku melakukan close recrutment, dan sudah mendapat dua nama. Semoga pekan depan mereka sudah bisa bertugas. Memang sih, usaha craft seperti ini akan tergantung dengan orderan, tapi apa gunanya jaringan luasku enam tahun ini? Aku yakin asal personilnya kompeten, produk kami akan habis terjual.

Dan sekarang jumat lagi.
Tadi pagi aku ke puskesmas Umbulharjo I, tempatku bertugas mulai senin besok. Doakan lancar ya~

Jumat, 19 April 2013, 22:18

Suksesi Berkedok Rihlah — January 18, 2013

Suksesi Berkedok Rihlah

Sabtu, 12 Januari 2013,

 

Me: Hen, udah rame? Yang konfirm bisa siapa aja?

Henny: Aku masih beli makan, Mbak. Jadi nggak semangat nih, yang dateng itu-itu aja.

 

Hari itu kami mengagendakan untuk rihlah BIMO FORSALAMM. Dari 24 orang, tak sampai 50% yang hadir. Kami rihlah ke Kebun Buah, Mangunan, Imogiri, Bantul. Janjian kumpul jam 8, baru berangkat setengah 11. Imogiri merupakan wilayah Bantul paling timur yang berbatasan dengan Gunung Kidul. Tak heran jika jalannya naik-turun. Kami tiba di lokasi tepat ketika azan Dzuhur berkumandang. Tiket masuk hanya Rp 5.000 per orang. Setelah sholat, kami mencari spot untuk makan siang.

Berbagai pohon buah ada di sana. Karena sedang musim rambutan, kami dikasih rambutan gratisan. Kata bapaknya buat nyicip. Kalo mau bawa pulang harus beli. Bapaknya menyarankan kami naik ke “puncak”. Yasudah, kami mengambil motor untuk ke atas.

Sesampainya di puncak, kami disambut pemandangan luar biasa. Seperti lukisan. Subhanallah.. Itulah mengapa ada rihlah. Supaya kita bisa tafakur alam.

 Yon's8047 Yon's8044

Setelah makan siang di saung, agenda utama pun berlangsung. Masing-masing PH menyampaikan evaluasi dan rekomendasi untuk BIMO ke depan disertai masukan dan pertanyaan dari para staf. Karena sudah Ashar, acara dipending. Kami pun turun untuk sholat Ashar.

Abis ashar, suksesi berlanjut. Ketua BIMO menyampaikan LPJnya. Setelah itu pemilihan Dewan Formatur. Disepakati DF terdiri dari 3 orang. Ketua BIMO tidak ditentukan ketika suksesi, tapi ditunjuk langsung oleh ketua FORSALAMM. Tepat pukul 5, acara berakhir.

bimo2012

Esok sorenya, ada SMS dari seorang PH.

Meski telat, meski sudah lewat, terimakasih kepada panitia dan peserta rihlah/suksesi bimo 2012. Kemarin adalah suksesi paling menyenangkan sepanjang sejarah berada di lembaga. Semoga dibalas allah dengan kebun buah di syurga dan kita bisa berkumpul kembali :’)

*kesan terakhir sebelum meninggalkan bimo 🙂

Received: 16:23:09 13-01-2013

 

Yah, biasanya memang suksesi dilaksanakan di dalam ruangan. Tapi beberapa suksesi juga di alam terbuka. Sudah lamaaaa sekali pengen ada rihlah bimo, tapi banyak hal yang menyebabkan diundur. Masi ingat tulisanku yang ini? Banyak pasang-surut selama beberapa bulan terakhir.

Aku masuk bimo di tengah skripsi yang mengharu biru, beruntung aku punya partner dan teman-teman yang selalu menyemangati. Ketika aku berhasil mengejar pendaftaran program profesi apoteker di bulan September, stafku satu-satunya begitu semangat meng-handle berbagai program HRD. Afwan ya nggak bisa optimal di bimo. Aku banyak belajar dari kalian. Orang-orang yang berhati besar. Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan sebaik-baiknya balasan.