Loratadine

Just enjoy, let it flow~

Sastra Santun; Sebuah Gerakan Anti-mainstream — January 20, 2015

Sastra Santun; Sebuah Gerakan Anti-mainstream

Sastra merupakan karya yang menjadi ciri khas bangsa. Kemajuan budaya sering dikaitkan dengan sastra. Sastra di Indonesia mulai berlangsung setelah bangsa Indonesia berkenalan dengan kebudayaan asing, yakni kebudayaan Hindu, Islam, dan Barat.  Ada berbagai macam sastra, yaitu sastra klasik, kontemporer, modern,  pop, dll.

Berawal dari sebuah kajian bertema Sastra Santun di Jogja Islamic Book Fair beberapa waktu lalu, rekan-rekan Melimove sepakat untuk menjadikan tema ini sebagai bahasan diskusi di grup Whatsapp.

Alhamdulillah, Ahad, 18 Januari 2015 telah dilaksanakan diskusi dengan menghadirkan Mbak Yeni Mulati atau yang dikenal sebagai Mbak Afifah Afra sebagai pemantik diskusi. Beliau tentu tidak asing lagi di kalangan penyuka fiksi islami. Mbak Afra bergabung di Forum Lingkar Pena FLP sejak 1999. Pernah menjabat sebagai Ketua FLP Cabang Semarang, lalu Ketua FLP Wilayah Jawa Tengah, dan sekarang diamanahi sebagai Sekjen Badan Pengurus Pusat FLP (2013-2017).

Apa itu sastra santun? Sastra santun lebih dikenal dengan istilah sastra islami atau sastra profetik. Mengingat kedua istilah itu terlihat sangat “khusus”, maka dipilih kata “santun” untuk membangun kesan yang lebih universal.

Sastra arus utama/mainstream sekarang didominasi pada sastra berupa narasi minoritas dan pendobrakan hal-hal yang dipandang tabu. Cenderung pro antikemapanan. Karena semangatnya mendobrak hal-hal tabu, misal seks, maka mereka justru mengangkat tema tentang seks secara vulgar. Jika yang menulis adalah perempuan, derajatnya dua kali lebih keren. Seks adalah tabu diungkap di ruang publik, yang mengungkap perempuan, lebih tabu lagi. Maka, ketika muncul para perempuan yang menulis seks dengan sangat vulgar, dianggap “hebat kuadrat”. Jika tema-tema seperti ini menjadi tren, tentu akan berpengaruh pada perkembangan budaya masyarakat Indonesia. Harapannya sastra santun menjadi antitesa dari aliran arus utama tersebut.

Kriteria sastra santun, antara lain:

  1. Mengusung ide-ide kebaikan dan mencerahkan;
  2. Bahasa lembut dan sopan;
  3. Bahasa indah namun mudah dipahami dan sesuai dengan audiens;
  4. Tidak vulgar dan mengandung unsur-unsur yang melanggar norma.

Gerakan sastra santun ini punya “ambisi besar”yaitu:

1) Mendekonstruksi pemahaman tentang sastra yang akhirnya cenderung sesuai dengan pemahaman mainstream.

2) Menjadi mainstream sendiri dengan “pranata sastra” yang juga kuat. Misalnya, ada lomba sendiri, award, writer and reader festival (semacam khatulistiwa literary award), dst.

Untuk tujuan ini, FLP sebagai inisiator akan mengajak pihak-pihak yang memiliki visi yang sama. FLP akan back up penuh karya-karya yang bisa menjadi bagian dari sastra santun mulai dari proses kepenulisan hingga promosi.

Sastra santun merupakan pengembangan dari sastra Islami. Dalam hal isi, harapannya pada sastra santun, keislaman muncul sebagai substansi. Bukan sekadar kulit. Cara pengemasan juga harus semakin bagus. Sastra memiliki kaidah-kaidah yang “harus dipatuhi”. Para penulis sastra santun harus belajar mengemas karya sebaik mungkin.

Di perbukuan, setelah penulis, satu-satunya “pintu” bisa jadi hanya editor.  Kadang di penerbit tidak ada mekanisme cross check dari bagian selain redaksi. Dari pemerintah memang ada penilaian dari Diknas, tapi sifatnya tidak wajib. Jadi, memang sangat mengerikan karena nyaris tidak ada saringan.

Bahkan, display di toko buku pun tidak dibatasi. Maka, tidak heran jika banyak novel yang tidak sesuai kategori umur. Novel-novel asing yang diterjemahkan untuk dewasa bebas dibaca remaja. Buku-buku sejenis itu juga banyak didapat di perpus milik pemerintah. Pernah ditemukan buku-buku jenis itu di Perpusda Kabupaten Bintan. Setelah dikonfirmasi ke petugas, mereka tahunya itu kiriman dari pusat.

Nantinya, penulis yang menandatangani “kontrak sastra santun”, terikat secara moral untuk menulis sesuai kontrak. FLP juga akan bergerak ke penerbit-penerbit untuk ikut bergabung. Peran kita sebagai pembaca juga harus melakukan advokasi. Kalau kita membiarkan buku-buku yang tidak sesuai norma beredar, mungkin kita sendiri yang ikut mengkonsumsi dan lama-lama sensitivitas kita akan berkurang.

Sastra santun ini bentuk ke depannya bukan organisasi, tetapi gerakan. FLP akan mengajak organisasi-organisasi kepenulisan lain, juga penulis mandiri yang sevisi, utk bergabung. Gagasan ini masih sangat mungkin dikembangkan. Grand launchingnya insyaAllah November 2015. Nanti ada semacam Ubud Writer and Reader Festival di Makassar, mungkin 3 hari. Siap-siap nabung!

Setelah launching, penulis dan penerbit yang bergabung, menyepakati, lalu berkarya sebanyak-banyaknya dan sebagus-bagusnya. Selain itu, anggota gerakan sastra santun bisa memberikan edukasi ke masyarakat, toko buku dan penerbit. Atau bahkan ke pemerintah untuk membuat ketentuan yang lebih ketat lagi.

Apalagi sekarang mulai muncul banyak penerbit indie. Proses editing hanya pada penulis, bukan di penerbit. Gerakan sastra santun ini belum akan bergerak di controlling. Entah nantinya, karena pasti akan sangat sulit realisasinya. Tetapi, kalo kita bisa meyakinkan pemerintah untuk memperbaiki regulasi perbukuan, itu bisa diantisipasi. Jika regulasi perbukuan kuat, tugas kita akan menjadi lebih mudah. Mestinya ini memang tugas pemerintah. Kita tentu ingin agar karya-karya kita tetap tidak melanggar batas-batas norma.

Ah, dua jam tidaklah cukup membahas tuntas tentang sastra. Sebagai penutup, mbak Afra mengingatkan bahwa, “Pada prinsipnya manusia itu makhluk rabbaniyyah. Mereka akan menyukai karya-karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerahkan. Menjadi penulis yang rabbaniyyah bukan sekadar kita bisa menggerakan pena untuk merangkai kata-kata yang bagus. Tetapi juga menyusupkan ruh. Bukankah ketika Allah menghendaki kebaikan datang dari kita, tangan kita sebenarnya sedang “Dipinjam” Allah untuk menjadi lantaran hidayah?

Salima, 19 Feb 2015, 22:32

edisi revisi tulisan

Advertisements
Baca sampai selesai — May 12, 2014

Baca sampai selesai

Akhir-akhir ini aku sering menumpuk buku. Bolak-balik halaman demi halaman awal, kemudian loncat ke tengah, dan langsung baca ending-nya. Esoknya buku itu terlupa dan akhirnya menjadi daftar tunggu buku yang belum selesai.

Entah kenapa daya bacaku menjadi berkurang. Bisa jadi karena padatnya jam kerja, perjalanan macet yang melelahkan, serta setumpuk PR yang harus diselesaikan. Padahal, kemanfaatan sebuah buku tak bisa dirasakan ketika dibaca hanya setengah-setengah. Mari membaca!

Image

Sekelumit Kisah di Ende — December 29, 2013

Sekelumit Kisah di Ende

RESENSI

Da Conspiracao

 Judul buku    : Da Conspiracao; Sebuah Konspirasi

Penulis         : Afifah Afra

ISBN            : 978-602-8277-66-2

Penerbit       : Afra Publishing, Indiva Media Kreasi

Ketebalan     : 632 hlm, 20 cm

Harga buku   : Rp 65.000

 

Raden Mas Rangga Puruhita, pemuda terpelajar, sarjana ekonomi lulusan Leiden, ningrat Jawa, dan visioner. Ia dibuang ke Flores karena terlibat dalam gerakan melawan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.

Tan Sun Nio, gadis yang jelita, cerdas, ambisius, dan terlahir dari keluarga keturunan Tionghoa yang konservatif. Ia membuang diri ke Flores karena dikhianati calon suaminya. Namun, ia justru berhasil membangun sebuah kerajaan niaga terbesar di Indonesia Timur, dan menjadi orang terkaya di Flores.

Adapun Flores yang mereka datangi, sama-sama medan yang penuh bara. Awal abad XX, pulau itu baru beralih kekuasaan dari Portugis ke Belanda. Kondisi belum stabil. Bajak laut dan perampok merajalela. Pemberontakan para raja kecil atau mosalaki membuat bumi kian porak poranda.

Suratan nasiblah yang kemudian membuat mereka bertemu. Awalnya saling berhadapan sebagai lawan. Namun, mereka justru didekatkan ketika sama-sama terjebak dalam sebuah konpirasi tingkat tinggi. Konspirasi yang melibatkan sekelompok bajak laut yang dikoordinasi secara rapi menyerupai Mafioso di Sisilia: Bevy da Aguia Leste.

Novel ini adalah salah satu yang saya tunggu-tunggu kapan terbitnya. Bagaimana tidak? Saya membaca De Winstyang terbit pada Januari 2008 tanpa mengira bahwa akan ada lanjutannya. Tiba-tiba muncul De Liefde; Memoar Sekar Prembajoen pada Januari 2010 dengan label “Buku Kedua dari Tetralogi De Winst”. Maka tentu saja terbitnya Da Conspiracao semacam menjawab penasaran selama dua tahun.

Seperti kedua novel sebelumnya, Da Conspiracao menjadi salah satu fiksi sejarah favorit sayaKeseluruhan cerita berisi konflik yang mampu menyita emosi. Namun, karena tebalnya novel ini dan bahasanya yang jauh lebih berat membuat saya tidak mampu menghabiskannya dalam sekali duduk seperti ketika membaca De Winst.

De Winst mengambil latar Surakarta pada tahun 1930, di awali dengan kembalinya Raden Mas Rangga Puruhita Suryanegara dari Amsterdam setelah lulus dari Fakultas Ekonomi Rijksuniversiteit Leiden . Ketika perjalanan ia bertemu dengan Everdine Kareen Spinoza, seorang advocaat.

Idealisme seorang berdarah biru yang lama tinggal di Belanda itu mulai terbentuk ketika menghadapi sepupu yang dijodohkan dengannya- Raden Rara Sekar Prembayun. Benih-benih nasionalisme dan gerakan pembebasan Indonesia mulai muncul. Ketika Rangga mengambil peran di pabrik gula De Winst dan Partai Rakyat, Pemerintah Hindia Belanda memutuskan Rangga untuk menjadi internering di Ende. Sebelumnya Rangga menikahi Everdine yang masuk Islam dan mengganti nama menjadi Syahidah, sementara Sekar dikirim ke Universiteit Leiden pada awal Oktober 2013.

De Liefde menceritakan tentang Sekar dan Kareen secara bergantian dengan latar akhir tahun 1931 hingga April 1933 di Belanda dan Hindia Belanda. Rangga tidak muncul sama sekali di De Liefde, hingga membuat pembaca menebak-nebak bagaimana nasib Rangga di pengasingan.

Da Conspiracao menceritakan tentang pengasingan Rangga di Ende. Muncul banyak tokoh baru yang menjadikan Da Conspiracao begitu hidup. Prolog Da Conspiracao menceritakan tentang masa peralihan Portugis ke Belanda pada 1907 di Watunggere. Ketika itu Kapten Christoffel diutus untuk menaklukan Flores. Pasukannya menghadapi langsung mosalaki (raja kecil) Mari Longa. Usai kemenangan Kapten Christoffel, seorang Sersan bernama Johannes Van Persie menghadapnya untuk mengundurkan diri dari barisan sambil membawa seorang bayi perempuan yang ditemukannya diantara para korban perang.

Lalu, novel diawali dengan kisah tentang Tan Sun Nio dengan latar Surakarta pada akhir tahun 1924. Tan Sun Nio bertekad membuang diri ke Ende setelah patah hati karena Daniel Liem tak datang melamarnya pada malam puncak perayaan cap go meh. Akhir Agustus 1925 ia menyusul kakaknya, Tan Seng Hun yang sudah berada di sana sejak Ende resmi berada di bawah kekuasaaan pemerintah Hindia Belanda tahun 1915. Dari penjelasan penulis, diketahui bahwa Tan Sun Nio merupakan kakak kelas Sekar Prembayun di HBS .

Akhir tahun 1925, Tan Seng Hun meninggal karena menjadi korban pemberontakan Mari Nusa, pemimping gerakan pemuda di pedalaman Flores. Mau tak mau Tan Sun Nio harus mengambil alih bisnis kakaknya itu. Dalam masa transisi tersebut, Tan Sun Nio didampingi oleh Ramos Fernandez, indo Portugis kepercayaan Tan Seng Hun di Toko Pek Liong.

April 1926, Tan Sun Nio sudah cukup mampu memegang kendali atas bisnis kakaknya yang terdiri atas toko-toko, perdagangan kopra, sewa-sewa perahu untuk para pelayan serta sebuah maskapai ilegal candu. Ia  juga harus berhadapan dengan Djanggo da Silva, pimpinan Bevy de Aguia Leste (Perkumpulan Elang Timur), sekelompok bajak laut terkuat di perairan Sumba, Flores dan Timor serta Laut Banda dan Selat Makassar.

Tahun 1932, dalam perjalanan menuju Ende, Rangga bertemu dengan Hans Van Persie, mahasiswa Leiden yang mengambil jurusan geologi dan meneliti fenomena warna air di Danau Kelimutu. Sejak dari Waigapu, Rangga dikawal oleh Herman Zondag, bintara KNIL.

Walau perjalanan ke Ende dalam situasi begitu berbeda dengan perjalanan pulang dari Amsterdam, Rangga tak meninggalkan sholat wajib. Saya menangkap pesan tentang kemudahan beribadah dalam perjalanan jika tidak memungkinkan untuk berwudhu, maka bisa dengan tayamum.

Ketika baru tiba di Ende, Rangga banyak berinteraksi dengan Hans Van Persie. Di lingkungan tempat tinggalnya, Rangga bertemu Ine Nurkasih, Maria Dewi Van Persie dan Johannes “Bob” Van Persie. Karakter Maria mengingatkan Rangga pada sosok Sekar.

Da Conspiracao menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai Rangga dan Tan Sun Nio secara bergantian, namun di tengah lebih banyak porsi tentang Rangga. Secara bertubi-tubi berbagai peristiwa yang dialami Tan Sun Nio dan Rangga melibatkan banyak tokoh baru yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam sebuah konspirasi besar. Hingga sampai novel ini berakhir, saya masih banyak bertanya-tanya, akan seperti apa akhirnya?

Jika di De Winst dan De Liefde saya banyak menemukan istilah bahasa Belanda, di Da Conspiracao ini banyak istilah Portugis dan bahasa Ende. Jika di dua novel sebelumnya istilah-istilah asing dijelaskan pada footnote di halaman yang sama, istilah-istilah di Da Conspiracao dijelaskan di halaman belakang. Sehingga pembaca harus berkali-kali membolak-balik novel. Tidak hanya istilah asing, berkali-kali pula saya harus membuka aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia di laptop karena menemukan kosakata “baru”.

Kekurangan novel ini adalah banyak penggunaan kapital yang tidak seragam, terutama pada nama tokoh. Misalnya pada halaman 123 ditulis Djanggo Da Silva, sementara pada halaman 124 ditulis Djanggo da Silva. Alur maju-mundur yang banyak diwarnai dengan deskripsi mengenai kejadian-kejadian di masa lalu, seperti ingatan Rangga tentang cerita Ramanya, atau kondisi di belahan bumi lain, menurut saya cukup membuat bias dan agak keluar dari sub tema bab. Penulis cepat mengganti bahasan sehingga paragraf panjang di halaman sebelumnya berhenti sebatas informasi tambahan untuk pembaca.

Selain banyak menjabarkan tentang pemberontakan pribumi terhadap Pemerintah Hindia Belanda, novel ini juga menyisipkan pergolakan batin Tan Sun Nio tentang berbagai agama serta toleransi antar umat beragama melalui sikap Rangga. Selain mengangkat tema agama, keberagaman budaya pun cukup mendominasi. Selain Jawa dan Belanda, kultur Portugis, Tionghoa dan Flores membuat novel ini begitu kaya informasi. Pastinya penulis melakukan riset yang panjang dan lama.

Hal yang menarik adalah ketika dialog Maria dengan Rangga tentang wudhu. Tak jarang ketertarikan orang kepada Islam terhadap hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, adegan Rangga yang tetap hafal beberapa ayat Surat Al-Baqarah walaupun ia amnesia mengingatkan saya pada tokoh Maria di Ayat-Ayat Cinta yang melantunkan hafalan Surat Maryam dan Thaha ketika ia sakit.

Membaca Da Conspiracao, seperti membaca kompilasi karya Afifah Afra sebelumnya yang berlatar sejarah, budaya dan sindikat mafia, sebut saja Trilogi Bulan Mati di Javanche Orange, Syahid Samurai dan Peluru di Matamu; Serial Marabunta; Jangan Panggil Aku Josephine dan Katastrofa Cinta. Ada beberapa hal yang mirip dalam segi penokohan, alur dan setting cerita.

Mbak Afra begitu piawai menggabungkan unsur fiksi dan fakta sejarah melalui kisah epik yang begitu rumit. Selain cukup tebal, novel ini cukup berat sehingga dibutuhkan konsentrasi penuh untuk membacanya. Jadi, tidak perlu tergesa-gesa menyelesaikannya. Saya menunggu buku keempat yang pastinya jauh lebih seru dan lebih kompleks. Tokohnya banyak banget sih! 🙂

Salima, 29 Desember 2013, 13:41

Flavour Stories [2] — December 26, 2013

Flavour Stories [2]

Oke, lanjut lagi reviewnya… Menurut saya ketiga novel ini ceritanya mirip adegan sinetron. Tapi tentunya ada unsur rasa di setiap cerita 🙂

3. The Strawberry Surprise – Desi Puspitasari

Strawberry Surprise

Prolog novel ini mirip dengan opening scene film. Lalu dilanjutkan dengan kisah Aggi dengan alur maju-mundur. Suatu hari Aggi bertemu dengan Timur, mantan pacarnya, setelah lima tahun tidak berkomunikasi. Pertemuan mereka agak unik karena tanpa janjian seperti lazimnya seorang teman lama yang akan datang ke kota tempatmu tinggal. Ya, Timur bekerja di Bandung, sedangkan Aggi di Jogja.

Setting tempat banyak diambil di Jogja, beberapa di Bandung, dan ada satu di Beijing. Namun, sayangnya keunikan tempat wisata di sana kurang dieksplor, penulis lebih banyak menyajikan dialog antar tokoh. Beberapa kali saya mengerutkan kening karena tidak ada keterangan tempat dan waktu. Sudut pandang orang ketiga yang digunakan penulis dengan lebih banyak menceritakan tentang Aggi, menurut saya agak kurang seimbang. Mungkin akan lebih enak dibaca jika menggunakan sudut pandang orang pertama, penulis sebagai tokoh Timur. Saya tidak bisa hanyut dalam cerita karena tokoh Aggi maupun Timur kurang ekspresif.

Selain tentang strawberry, novel ini banyak membahas tentang fotografi, musik dan seni, serta kehidupan para eksekutif di akhir pekan. Timur akan tiba di Jogja pada Minggu pagi, dan kembali ke Bandung pada Minggu malam, karena ia bekerja hari Senin sampai Sabtu. Ide cerita begitu dekat dengan keseharian, karena tak sedikit orang yang bekerja di Bandung atau Jakarta namun keluarganya di Jogja.

Satu lagi keunikan novel ini adalah Desi Puspitasari memberikan filosofi pada setiap tokoh lelaki yang pernah hadir dalam kehidupan Aggi; laki-laki selai kacang, laki-laki permen karet stroberi, lelaki stroberi varian flamboyan. Sementara Timur, bukan termasuk stroberi.

4. The Vanilla Heart – Indah Hanaco

Vanilla heart

Dibandingkan novel yang lain, novel ini paling ringan. Bukan karena paling tipis, tapi karena ceritanya cukup “standar” Metropop. Tokoh Hugo Ishmael yang tertarik pada Dominique Vanilla pada pertemuan pertama. Hugo hampir saja menabrak teman Dominique karena ia baru saja diputuskan sepihak oleh tunangannya, Farah.

Setelah kejadian itu, Hugo pergi ke Bristol. Disana ia bertemu Garvin yang mengenalkannya dengan filosofi vanilla. Hugo kembali ke Indonesia dan kembali bertemu dengan Dominique yang bekerja di perusahaan keluarganya. Yah, membaca novel ini seperti menonton adegan-adengan sinetron indonesia.

Cukup banyak konflik personal Dominique dan Hugo yang disajikan dengan sudut pandang orang ketiga. Porsi masing-masing tokoh cukup seimbang. Namun, tokoh yang terlalu banyak sempat membuat bias alur cerita. Endingnya pun cenderung dipaksakan dan penyajiannya agak mirip dengan novel terjemahan.

5. The Mocha Eyes – Aida M.A.

Mocha Eyes

Novel ini saya rekomendasikan untuk para psikolog karena bisa menjadi referensi trauma healing. Aida M. A. mengangkat tentang pelecehan perempuan yang sudah tidak asing lagi di Indonesia.

Muara yang ceria mengalami sebuah trauma di masa kuliah yang cukup membekas. Ia memutuskan berhenti dari kuliahnya dan menarik diri hingga tiga tahun. Selama tiga tahun tersebut ia menjadi pribadi yang berbeda. Ayahnya meninggal karena shock ketika mengetahui musibah yang dialami Muara. Hanya ibunya yang tak kenal lelah mendampingi prosesnya untuk kembali normal.

Suatu hari, restoran cepat saji tempat Muara bekerja mengadakan training di Puncak. Di sana Muara bertemu Fariz, seorang trainer. Dengan sekali lihat, Fariz tau ada yang tidak beres dengan Muara. Sejak itu Fariz mendekati Muara untuk mengetahui masalahnya.

Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai Muara, sehingga pembaca dapat merasakan emosi Muara yang labil. Sedangkan ketika menceritakan sisi Fariz, penulis menjadi orang ketiga.

Novel ini begitu ringan menyajikan sebuah konflik yang cukup berat. Bagaimana seorang Muara yang kehilangan arah selama bertahun-tahun akhirnya memiliki motivasi, serta peran orang-orang sekitarnya dalam proses penyembuhannya.

Sayangnya belum baca The Chocolate Chance – Yoana Dianika, semoga lain kali bisa direview 🙂

Flavour Stories [1] —

Flavour Stories [1]

Bentang Love Flavour Series
Bentang Love Flavour Series

Novel Seri dari Bentang Pustaka yang satu ini unik. Tema yang diangkat adalah tentang “rasa” yang menjadi variasi makanan atau minuman. Ada 6 rasa yang menjadi bahasan novel tersebut. Proyek Love Flavour ini melibatkan 6 orang penulis wanita yang tak asing lagi di dunia kepenulisan. Dari 6 saya sudah selesai membaca 4 dan sedang membaca 1. Ini sedikit pendapat saya:

1. The Coffee Memory – Riawani Elyta

Coffee Memory

Buku ini tentang Dania, pemilik Cafe kopi Katjoe Manis. Bagian pembuka menggambarkan bagaimana kalutnya Dania ketika suaminya, Andro meninggal karena kecelakaan. Tapi karena Katjoe Manis harus tetap berjalan, ia merekrut barista bernama Barry.

Masalah tidak selesai di sana tentunya. Muncul Bookafeholic, kafe saingan milik Pram, teman masa remaja Dania. Belum lagi ada insiden kebakaran ketika Sultan, anak semata wayang Dania, sedang opname karena sakit DB.

Membaca buku ini akan menyadari bahwa banyak orang yang peduli pada kita. Ketulusan mereka akan terlihat di waktu sempit.

Ah, ya. Setting cerita di Batam. Dan muncul BreadTime, milik dua orang sepupu. Tentu mengingatkan saya dengan Tarapuccino- novel Riawani Elyta yang digarap bersama Rika Y. Sari. Hingga saya menyimpulkan bahwa Katjoe Manis dan BreadTime adalah tetangga. Ada beberapa bagian pada kedua novel ini yang serupa tapi tak sama. But, I really enjoyed both of them.

2. The Mint Heart – Ayu Widya

Mint Heart

Cerita dimulai ketika Patricia -editor in-chief- mencetuskan ide “Wherever You Want” sebagai bentuk perayaan ulang tahun ke-30 tahun majalah Travel Lover’s Magz. Ide ini menjadikan Leon dan Lula sebagai pelaksana proyek. Leon adalah sosok Mint ice cream bagi Lula, sedangkan Lula adalah cewek berisik yang mengganggu bagi Leon.

Ceritanya ngalir dan mengundang tawa. Ringan banget. Konflik dimulai ketika Anika -tunangan Leon- muncul ketika mereka di Makassar. Menyusul kemudian Rifo -First Love Lula- yang menjadi model dalam perjalanan mereka di Jogja.

Ayuwidya menggunakan sudut pandang orang pertama dari sudut Leon dan Lula secara bergantian. Ia menggambarkan ekspresi tokoh-tokohnya dengan baik. Menurut saya, sosok Leon nggak dingin-dingin amat si. Mungkin efeknya akan beda kalau novel ini dibagi dua, side-A dari sudut pandang Lula dan side-B dari sudut pandang Leon.

So far, saya suka novel ini walau kurang banyak konfliknya si. Ditengah tren novel dengan latar luar negeri, novel ini semacam #antimainstream karena memilih latar dalam negeri. Untuk orang yang suka novel dengan tema travelling, novel ini recommended.

[bersambung]