Loratadine

Just enjoy, let it flow~

Graduation (Friends Forever) — May 15, 2014

Graduation (Friends Forever)

by VITAMIN C

And so we talked all night about the rest of our lives
Where we’re gonna be when we turn 25
I keep thinking times will never change
Keep on thinking things will always be the same
But when we leave this year we won’t be coming back
No more hanging out cause we’re on a different track
And if you got something that you need to say
You better say it right now cause you don’t have another day
Cause we’re moving on and we can’t slow down
These memories are playing like a film without sound
And I keep thinking of that night in June
I didn’t know much of love
But it came too soon
And there was me and you
And then we got real blue
Stay at home talking on the telephone
And we would get so excited and we’d get so scared
Laughing at ourselves thinking life’s not fair
And this is how it feels

As we go on
We remember
All the times we
Had together
And as our lives change
Come whatever
We will still be
Friends Forever

So if we get the big jobs
And we make the big money
When we look back now
Will our jokes still be funny?
Will we still remember everything we learned in school?
Still be trying to break every single rule
Will little brainy Bobby be the stockbroker man?
Can Heather find a job that won’t interfere with her tan?
I keep, keep thinking that it’s not goodbye
Keep on thinking it’s a time to fly
And this is how it feels

We will still be friends forever

Will we think about tomorrow like we think about now?
Can we survive it out there?
Can we make it somehow?
I guess I thought that this would never end
And suddenly it’s like we’re women and men
Will the past be a shadow that will follow us around?
Will these memories fade when I leave this town
I keep, keep thinking that it’s not goodbye
Keep on thinking it’s a time to fly

IMG-20130510-WA0008
IMG-20130406-WA0003
Advertisements
May Day — May 1, 2014

May Day

Aku masih ingat tahun lalu ada demo hari buruh. Dan kemudian ditetapkan bahwa mulai 2014, 1 Mei diliburkan. Njuk ngopo?  pikirku waktu itu.

Hari ini aku merasakan sebagai seorang tenaga medis, libur itu adalah sesuatu yang dinanti-nanti. Kenapa? Profesi medis harus memahami bahwa tenaganya dibutuhkan 24 jam. Oleh karena itu, sistem shift menjadi mutlak. Dan orang-orang yang bekerja dengan sistem shift, tidak bisa egois dengan datang terlambat tapi pulang duluan, karena itu akan berpengaruh pada beban kerja rekan sejawatnya.

Lihatlah kalender, kau akan menemukan tanggal merah di tiga hari kamis, satu hari selasa dan empat hari minggu. Kalau mau libur agak panjang, sebenarnya bisa lho request libur tanggal 26, 28, 30 dan 31. Empat hari aktif itu diganti dengan empat hari minggu.

Tapi, kondisinya apoteker lebih dibutuhkan pada hari aktif, karena tidak ada praktek dokter spesialis pada hari libur. Sementara di RSIY baru ada 4 apoteker, yang dua agak susah dijadwal karena ada kuliah S2 sampe sore, ada 2 yang baru juga masi orientasi, belum bisa ditinggal.

Pengen liburan.. 😦

Ah, sudahlah.. Allah knows best.. Hari ini alhamdulillah ada rihlah lintas generasi, dari vokasi sampe pasca, dari yang masi skripsi sampe yang udah punya jundi. Kapan lagi coba bisa serame ini?

Yon's11767 Yon's11820 Yon's11774

 

Agak sedihnya pejuang07 akhwat yang datang cuma itungan jari..

Yon's11860

Akhir mei insyaallah akan ada 2 perhelatan besar perjanjian yang agung. Semoga bisa jadi sarana silaturahim dan reuni berbagai generasi.

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Al-Jumu’ah, 62: 10)

Salima, 1 Mei 2014, 21:51

2nd Reunion — September 13, 2013

2nd Reunion

Tepat setahun yang lalu, sohibku, sebut saja Y, kembali ke kota kelahirannya. Hanya beberapa hari usai wisuda, ia langsung bekerja di salah satu kampus di sana. Dan, pekan ini ia datang ke Jogja, menghabiskan sepekan untuk liburan.

Selasa (10/9)

Jarkomnya si jam 16.30. Waktu yang terlalu cepat untuk dinner, dan terlalu telat untuk lunch. Kupikir teman-teman mungkin akan telat mengingat Sensei kami baru pulang kerja pukul 5. Aku yang sedang memilah kertas dan bahan kuliah masih bersantai usai sholat ashar. Tempat kumpulnya di Jurugsari, hanya 1,3 km dari kosku. Lima menit juga sampe, pikirku.

Tepat 16.15 aku mulai bersiap-siap. Untuk menghindari macetnya jakal jam pulang kantor, aku lewat jalan dalam, melewati kompleks perumahan di sekitaran Purwosari. Sesampainya di jalan Kalimantan, aku mendapati hapeku tidak di tas. Yaiyalah, tadi kan lagi dicas. Nah, lho. Yasudah, aku putar balik ke kos.

Aku sampai di lokasi kumpul dengan kondisi hanya satu motor yang ada di parkiran. Tentu saja yang ngundang yang duluan datang. Ia sedang terlibat obrolan seru dengan si Nyonya Rumah. Sambil menunggu yang lain, kami mengobrol seru membahas urusan masa kini.

Tepat azan maghrib, personil kami sudah lengkap. Oh, tentu minus 3 orang yang tidak di Jogja lagi. Sensei kami berinisiatif langsung menuju lokasi dinner. Dan ternyata beliau kehabisan bensin di km 9. Salah dua dari kami mencari beliau dan membelikan bensin eceran. Sedangkan yang lain langsung ke lokasi.

Dari sini aku mendapat pelajaran. Bahwa tiap orang punya jalan hidup masing-masing. Walaupun usia kami hampir sebaya, kami masuk kampus dalam waktu yang sama, tapi sekarang ada yang sudah kerja, ada yang sudah nikah, ada yang lanjut s2, ada juga yang masi skripsi. Ah, ya, begitulah Allah memberikan pelajaran terbaik-Nya, agar kami bisa bersyukur dan bersabar dengan takdir-Nya.

Kentungan, 13 September 2013, 09:16

 

Rolling Disaster — April 9, 2013

Rolling Disaster

Ada sebuah sistem yang kemudian menjadi “sarana pembelajaran” yang disebut rolling. Entah penempatannya dengan pertimbangan apa, bervariasi tergantung kondisi. Kejadiannya adalah ketika aku tidak di Jogja. Ah, iya, aku sudah bilang kan kalo Februari – Maret ini aku semacam menghilang karena tugas di Jakarta? Terakhir aku punya tanggungan 2 kelompok 2009 yang super dinamis, begitu susahnya memprioritaskan forum pekanan, hingga seringkali ku-merger. Lalu, sebelum aku berangkat ke Jakarta, sudah kutegaskan bahwa akan ada penataan 2009. Sementara hingga penataan, mereka dihandle temanku.

Waktu berlalu, berbagai kabar simpang siur kuterima. Ah, ya, 2007 juga ada penataan. Lalu penataan 2009 dan 2010. So surprise that, penataan kali ini per klaster. Agro-fakes, sains dan soshum-tek. Entahlah, mungkin untuk lebih mengkondisikan kader berdasarkan spesialisasi ilmu, kondisi amanah, maupun jadwal akademis. Biar diskusinya nyambung kali ya? Apapun itu, pastinya ada pertimbangan tersendiri dari panitia penataan.

Aku yang jauh dari jogja, mendapat kabar bahwa mendapat tanggungan 2009, 7 orang sudah ada PJ handlenya. Lalu, tiba-tiba ada tambahan 2 orang. katanya mau dipisah karena terlalu besar. Ah, tak tahu lah… Ketua kelompok sementara mengeluhkan, “mbak, katanya ini liqo’ pertama dan terakhir? Soalnya masi penataan.” Aku cuma bisa menjawab seadanya.

Tak lama menyusul “pemberitahuan” bahwa aku juga dipasrahi 1 kelompok 2010. Oh, plis, ini apa? Oke, memang kapasitasnya 1:3, 1 orang menghandle 3 kelompok, tapi coba cek dong, berapa persen 2007 yang tidak membina sama sekali? Aku merasa dzolim pada mereka. Tiap kader punya hak dibina dan membina, kenapa aku dapat 3 sementara banyak yang tidak dapat sama sekali?
Dan, itu kusampaikan dengan bahasaku. Tidak ada respon. Yasudah. Kupikir sudah selesai. Secara, aku belum di Jogja, dan jika aku diserahi kelompok tentunya harus ada PJ sementara kan? Dan urusan ini terkubur bersama kesibukanku mengerjakan tugas dari rumah sakit.

Nah, dalam perjalanan ke Kebumen kemarin, aku mendapat SMS lagi. “Dek kapan balik ke Jogja?” dan berbagai sms lain yang membuatku menyimpulkan bahwa sanya aku harus segera “pulang”. Huff.. Aku menghela nafas panjang. Begini ya rasanya meninggalkan medan perang? Ketika 1-2 orang prajurit tak ada, maka “beban” peran menjadi beban prajurit yang tertinggal.

Pagi ini, aku mendapat SMS lagi. Tapi dari orang yang berbeda. Ia menanyakan tentang si X yang belum pernah kudengar sama sekali. “Si X dihandle siapa mbak?”

Jreeeeng… Pundakku terasa berat. Ternyata oh ternyata, si X adalah 2010 yang nasibnya tak jelas itu sodara-sodarah!
Cepat kubuka lepiku, cek imel dan data yang dikirimkan. Ah, ya. Jelas tertulis nama si X di data itu. Aku hanya bisa beristighfar. Allahu rabbi.. Ini generasi penerus bangsa, yang ngurusnya nggak jelas semacam hamba… Aku segera meng-SMS panitia penata, menanyakan sejak kapan mereka dirolling, dan beliau menjawab, “udah 2 pekan dek.”

Aku tau rasanya terkatung-katung belum dapat kepastian forum pekanan selama 3 pekan karena menunggu proses mutasi sementara. Aku, yang sudah hampir 8 tahun berada dalam lingkaran, mungkin punya cara untuk memanfaatkan berbagai sarana penjagaYon's8191an diri, tapi mereka? Aku hanya bisa menyerahkan urusan ini pada Allah saja.

Aku tak menyalahkan siapa-siapa. Ini murni miskomunikasi dan salahku tidak aktif bertanya. Yah, sudah ada panitia penataan, dengan kondisiku tentunya mereka sudah menyiapkan alternatif PJ sementara dong ya? Ternyata, begitu banyak yang diurus, hingga 1 kelompok ini menjadi korban. Gomen ne, mianhae, please forgive me.. It was my fault, sist..

Ada 2 hal yang mungkin terjadi pada peserta forum pekanan yang mengalami masa transisi dan tidak segera ditindaklanjuti:
1.    Merasa rindu untuk segera kembali dengan rutinitas forum pekanan. Maka ketika ia dihubungi, akan menyambut dengan sukacita.
2.    Merasa nyaman dengan ke-luang-an tanpa forum pekanan. Ketika dihubungi ia akan menggumam, “duh, males banget si.”

Pilihan 1 atau 2 adalah indikator ketahanan seseorang terhadap suatu sistem. Tak jarang terdengar banyak orang penting di kampus kemudian memilih untuk menikmati kejernihan dalam kesendirian, karena tak sabar menunggu proses mutasi. Tapi tak jarang pula proses mutasi makin memperkuat ikatannya terhadap sistem ini.

Untuk semua yang sedang mengalami masa transisi
Meruya, 3 April 2013, 06:53

Mutiara Terjalin — January 18, 2013

Mutiara Terjalin

Masa transisi adalah masa yang rentan. Waktu libur antar semester seperti ini ada yang mudik atau Kerja Praktek (KP) di luar kota. Tapi ada juga yang stay di Jogja sampai semester baru tiba. Siang ini, kami berencana untuk rihlah lingkaran. Dari 10 orang, yang jelas tak bisa hanya satu karena ia masih mudik. Karena esok senin ada 2 orang yang berangkat KP di luar Jogja untuk 1 bulan, dan ada beberapa yang mudik. Berarti ini adalah liqo’ terakhir mereka. Sedangkan aku, insyaallah Februari PKPA di Jakarta. Kata Sensei-ku sekalian aja dibubarin. Yang masi stay di Jogja tetap dihandle sampai rolling akhir Januari.

Maka kami sepakat bahwa ini akan menjadi liqo’ wada.

Sekitar jam 9 pagi, ada sebuah SMS:

D: Mbak, aku ijin ra melu liqo’. Ada saudara yang ninggal

Me: Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.. Siapa D? Takziyahnya di mana?

D: Saudara jauh. Menantu adik mbahku.

Me: Takziyahnya di mana?

D: kampung sebelah.

Aku pernah mengalami kasus serupa. Karena yang ninggal adalah keluarga jauh, maka temanku tidak berkenan kami datangi.

Pukul 12, ada SMS lagi.

T: mbak, afwan, saya semalam begadang. Ini pusing banget nggak enak badan. Ijin ya mbak. Padahal hari ini jalan2 kan? Tapi saya nggak bisa ikut.

Mahasiswa mana sih yang nggak begadang demi tugas kejar deadline? Yasudahlah.

Setelah dzuhur aku berangkat ke tempat ngumpul. Baru ada satu orang. Sebut saja W. Tak berapa lama kemudian R dan M datang. Sudah setengah 2 ketika F dan I baru muncul. Lalu peserta terakhir yaitu L dan H. Yak, lengkap, 7 hadir, 3 izin. Sementara jam tanganku sudah menunjukkan pukul 2.

Tiba-tiba ketika kami mau berangkat ke TKP, si W ijin pulang duluan. Mau daftar les bahasa Inggis. Hari ini terakhir jam 3. Si L juga ijin mau ke kampus bentar ngumpul berkas KP. Tadi akademik tutup, katanya jam 2 buka. Yaelah, kenapa si ini anak-anak gampang banget ijin? Astaghfirullah…

Oke, akhirnya kami berangkat berenam doang.

Tiket masuk Monjali Rp 7.500. Tentunya taman pelangi lebih bagus kalo malem. Kami berenam langsung masuk museum. Baru 2 ruangan, si I nanya, “Mbak, ntar ada ngelingkarnya nggak?”

“Iya,” jawabku.

“Gimana kalo ngelingkar dulu, Mbak? Saya abis Ashar ada agenda.”

Haaah? Aku cuma bisa tercengang. Kutahan diri untuk tidak membentaknya, Gile lu, kite baru nyampe nih, segitu pentingnya acara lu daripada liqo’ ini?

“Yaudah, yuk, keluar dulu. Ntar abis ashar yang mau muter monggo, yang ada agenda pulang duluan aja.”

Maka kami berenam keluar dan mencari tempat yang enak untuk liqo’ seperti biasa: iftitah, tasmi’, kultum, materi, khotimah. Karena sudah ashar, yaudah, bubar deh. 3 orang pamit duluan. Yang 2 hanya bisa terpaku di kursinya.

“Kukira kita bakal sampe malem di sini,” gumam F.

“Yah, aku juga pengennya gitu, F.”

“H, kamu abis ni ada acara nggak?”

“Nggak koq, aku free.”

“Sip. Kita sampe malem yuk. Gila aja, kita udah bayar tuju setengah meeeen… Masa cuma bentar doang?”

“Iya, bisa buat sekali makan!” sahut H.

“Mbak Ne ada acara?”

“Nggak ada, cuma janjian ketemu orang jam 5. Pokoknya kalo dia SMS baru kusamperin.”

“Yes. Berarti kita muter ya, Mbak?”

“Oke.”

Tak lama kemudian, L muncul.

“Yaaaah.. Koq udah bubar sih? Maaf ya, Mbak, akademiknya baru buka setengah 3”

“Pada punya acara L. Yaudah si. Abis ni ada acara nggak? Kita mau keliling.”

“Nggak ada koq, Mbak.”

Abis sholat ashar di mushola Al-Jariyah yang berukuran 3 m x 3 m, kami makan di warung sebelahnya. Lalu, kami berjalan mengelilingi monumen museum. Tiap nemu objek bagus, kami berhenti. Nggak sia-sia aku pinjam pocket camera teman.

Jam 5 lebih, ada SMS masuk. Temanku dalam perjalanan menuju tempat janjian. Yasudah. Kami pun segera menyudahi perjalanan sore ini. Entah kapan bertemu mereka lagi. Jika di dunia, semoga kami bertemu dalam keadaan yang lebih baik. Terlebih dari itu, semoga kami bertemu lagi di Jannah-Nya kelak. Amiiin..

Salima, 18 Januari 2013, 21:53

SAM_0078

SAM_0115SAM_0085