Hello~

Haloooo.. Yaampun, ternyata udah 2 tahun nggak muncul ya.. hihi.. 2015 sampe awal 2016 kayaknya kadang masih muncul di nolpitu.com, tapi abis itu sibuk persiapan akreditasi KARS dan nggak pernah muncul lagi.

Alhamdulillah, kemarin Senin 4 Desember 2017, sudah survei verifikasi tahun pertama. Tinggal perbaikan untuk tahun kedua dan ketiga.

Btw, Oktober kemarin aku memutuskan untuk ganti status akun Instagram dari akun pribadi jadi akun bookstagram. Jadi beberapa postingan random aku hidden. Banyak hal yang terjadi 2 tahun terakhir. Salah satunya dengan tambahan ratusan koleksi buku. Status register 925 buku. Tapi karena Maret 2017 kemarin aku buka akun jualan buku preloved, fisiknya tinggal 457 buku. Jadi 6 bulan terakhir ini jual buku buat buku baru lagi. šŸ™‚

Nah, kedepan insyaallah aku akan share full review buku di sini ya. Kalau mau baca daily review bisa di instagram @y0nea, dan silahkan cek buku yang udah kurelakan untuk dijual di @salimapreloved.

Buat yang baru gabung, salam kenal ya. Semoga isi blog ini bermanfaat. Thank you~

Kalasan, 5 Desember 2017

-ne-

Advertisements

Rehat

Hello, All. Long time no see.. Well, sejak Ramadhan pindah rumah keĀ nolpitu.comĀ si ya, jadi blog pribadi mulai dipenuhi sarang laba-laba. Banyak cerita sejak punya rumah baru, komunitas yang isinya orang random semua. Teman lama, mutual friend, sampe ke teman rusuh bareng.

Di antara kesibukan sebagai Apoteker, nolpitu.com semacam tempat melarikan diri. Abis finger printĀ biasanya langsung kabur meet up sama anak-anak. Apalagi kalo weekend atau pas akhir bulan. Dari sembilan kali stress bikin jadwal, mungkin ada setengahnya ngerjain bareng mereka. Rencananya sambil nemenin yang ngerjain tesis si. Tapi ujung-ujungnya malah ngobrol ngalor-ngidul kayak lama nggak ketemu, padahal tiap hari rusuh di grup.

Kadang jenuh si ya dengan aktivitas yang monoton, setiap hari stressornya nambah. Tapi ya namanya pilihan ya, resiko apapun, hadapi aja lah ya. Harus bisa bedakan masalah kerjaan sama urusan pribadi. Capek. Yaya.. Kerjaan nggak ada abisnya.

Akhir Agustus kemarin sempat ngerasain traffic light accidentĀ yang menyebabkan cedera lutut kiri dan lengan kanan. September yang katanya ceria, diawali dengan istirahat 3 hari di kosan untuk pemulihan, hampir seminggu anter-jemput ke mana-mana, dan berujung dengan demam tinggi pas Idul Adha.

Dan, Oktober ini diawali dengan beda pendapat masalah seragam Jas Apoteker. Oh, My.. Kapan ya bisa hidup tenang? Dunia.. Dunia…

Kadang kalo udah gini, aku berandai-andai jadi orang kaya yang nggak perlu kerja. Tapi, nggak boleh kan ya? Yasudahlah, disyukuri aja. Masih bisa hidup normal, masih bisa ngerasa capek, masih bisa kesel sama orang, berarti hatinya belum mati.

Tiap pulang kerja cuma bisa berdo’a, “Ya Allah, berikanlah kesabaran yang tak terbatas” Apalagi kalo nyampe kos ternyata berantakan. Doanya nambah lagi, “Berikanlah rejeki halal yang banyak, biar bisa punya rumah sendiri.”

Haha. Begitulah~

Ketika semua dianggap serius, yang ada bakal capek doang. Lurusin niat, hadapi dengan kepala tegak. Be Strong!

Catatan Sepulang Kerja mampir ke Cacaobar,

3 Oktober 2015, 16.31

Hey, June! Hello, Ramadhan!

Sudah memasuki akhir juni! Sudah memasuki hari kelima Ramadhan. Bagaimana Ramadhan kali ini? Ini Ramadhan kedua sebagai Apoteker. Capeknya beda ya dengan jaman kuliah dulu. Kalo dulu abis kuliah sampe jam 3, mesti langsung kabur ke Mardliyyah, ikut kajian sore. Kalo kuliahnya agak siang, abis subuh siap-siap kajian pagi. Sekarang? Hfft..

Tarawih pertama dan kedua abis jaga pagi, pulang jam 4 sore dari RS, abis maghrib tepar. Bangun jam 9, akhirnya tarawih sendiri. šŸ˜¦

Ramadhan pertama, waktu setelah dzuhur menjadi waktu efektif para karyawan stay di Masjid untuk memperbanyak tilawah.

“Enak ya, Mbak. Temen-temen unit lain bisa tadarusan dulu. Kalo farmasiĀ sihĀ sudah ditunggu pasien.” Kata salah satu rekan kerjaku.

 

Ramadhan kedua, jaga siang di Poli Lt. 3, Alhamdulillah pasiennya nggak terlalu banyak, jadi bisa tilawah 1 juz sambil nunggu Maghrib. Kesempatan yang langka jika kerja di tempat lain, mungkin. Teman-teman satu shift juga begitu khusyuk membaca Al-Qur’an. Pemandangan yang jarang terlihat di hari-hari biasa.

Lepas maghrib, ketika bersiap untuk tarawih, bagian IP mengabarkan bahwa dokter spesialis bedah dalam perjalanan. Kami menunggu dengan tidak sabar, sambil berdoa supaya dokternya datang habis tarawih saja.

Azan Isya’ terdengar, dokternya belum datang. Kami bertiga yang bertugas bergegasĀ keluar ruang farmasi, menutupnya dan menitipkan kunci ke bagian kasir. Kemudian masuk lift. Ting! Pintu lift terbuka, aku sudah keluar menuju farmasi UGD, tiba-tiba muncul mobil dokter bedah di depan pintu masuk UGD.

“Mbak Ne. Ayo naik lagi.”

“Yaah.. ”

Dan kami semacam menjemput dokter yang datang.

 

“Dok, mbok tarweh sik,” ujar Mbak Ria, Asisten Apoteker senior yang sudah mengabdi sejak RS dibuka.

“Meh tekan jam piro?” jawab pak dokter. “Aku kesel e, rung buko. Ngur mbatalke.”

Mau sampe jam berapa emang? Aku capek belum buka, baru sekedar membatalkan puasa. Ah, ya. Dokter mah gitu orangnya. Dilema. Sekedar menyempatkan berbuka saja tidak sempat. Dari satu tempat praktek ke tempat praktek lain, capek di jalan, sudah ditunggu pasien.

 

Benar saja, keluarnya kami dari lift, wajah letih para pasien terlihat lega.

 

**

Dan akhirnya, ketika teman-teman shift siang sudah pulang, aku tarawih sendiri lagi, di ruang farmasi UGD. Menemani petugas jaga malam.

 

Ramadhan ketiga, jaga siang kali ini di farmasi induk. Pelayanan lumayan lancar, ketika azan, kami map pasien sudah selesai di-entry,Ā sehingga kami bisa buka sambil menyiapkan obat. Aku tau keranjang obat yang sudah bisa diserahkan sudah menumpuk. Maka kupercepat makanku, dan segera kudirikan sholat maghrib.

Usai maghrib, aku menyerahkan obat sambil sesekali pasien menanyakan obatnya sudah atau belum.

“Iya, pak. Sudah jadi. Ini saya panggil sesuai urutan ya, Pak.”

Begitulah, akhirnya semua pasien rawat jalan sudah selesai dipanggil. Tumpukan resep rawat inap sudah menumpuk, tapi sudah azan isya’. Hmm..

Seorang perawat bangsal kelas I menelpon, menanyakan obatnya sudah bisa diambil belum? Sudah, jawabku.

Sayang sekali, jika kali ini lagi-lagi terlewat sholat isya’ dan tarawih berjama’ah, pikirku. Maka selesai menyerahkan obat pada perawat, aku pamit pada teman-teman untuk ke masjid. Biarlah resep rawat inap di-handle mereka saja.

Penceramah dan imam kali ini salah satu Tim IT. Walaupun beliau terlihat kocak, tapi gitu juga Ustadz (peace, Pak). Beliau salah satu ustadz favorit di kalangan karyawan, suka menyampaikan materi mentoring dengan bercerita. Materi ceramahnya tentang keutamaan Al-Qur’an di bulan Ramadhan dan bagaimana pengaruh Al-Qur’an membuat banyak orang menjadi mualaf.

Satu hal yang membuatku terenyuh. Ketika beliau menjadi imam, anaknya minta gendong. Demi apa?

 

Ramadhan keempat, petugas sahur cuma masak nugget dan menyiapkan yogurt. Dan itu membuat teman-teman tidak semangat. Aku akhirnya masak mie goreng. Yaelah, baru hari ke-empat, udah lesu. *sigh*

Habis subuh aku membuatĀ farewell greeting,Ā semacam kenang-kenangan untuk teman, mencuci dan pergi ke forum pekanan sampai dzuhur. Lepas dzuhur istirahat dan abis ashar membantu yang piket masak.

Tarawih kelima akhirnya bisa di masjid dekat kosan.

 

Ramadhan kelima,Ā alhamdulillah, yang piket sahur masak sop dan Fuyunghai, daebak!

Hari ini masuk siang jadi pagi bisa istirahat sebelum menghadapi Senin sore yang biasanya rame. Doakan nanti bisa tarawih di masjid ya!

 

Salima, 5 Ramadhan 1436 H/ 22 Juni 2015, 12:42

Hi, May!

Kapan?

Mei..

Maybe yes,

Maybe no..

Masih inget iklan itu?

Hehe.. jaman kapan?

Alhamdulilah, Rajab sudah hampir berakhir. Sya’ban segera menjelang. Ramadhan sebentar lagi!

Aktivitas sebagai Apoteker semakin banyak, orderan wrapping dari orang terdekat mengisi waktu luang. Beberapa bulan terakhir, aku terlibat dalam beberapa komunitas serupa; baca, diskusi, tulis. Lelah? Yah, sedikit. Tapi, paling tidak setiap detik yang berlalu tidak berakhir sia-sia.

Mei ini akan banyak event bahagia dari rekan-rekan, 4 undangan Pejuang07 di hari yang sama (15-16 Mei), 1 undangan dari sahabat di Forsat07 JS (17 Mei), wisuda sarjana pejuang (19 Mei). Dan insyaallah beberapa kabar lainnya.

Adhiyyat sedang opname, insyaallah segera berpindah tangan. šŸ˜¦ Belajar ikhlas, semoga bahagia dengan owner yang baru šŸ™‚

Asyaro semakin jarang dipake, biasanya untuk nelpon atau nyetel radio doang ^^v

Sony semakin overload, sampe pernah ngehang gara-gara kartu As dituker dengan yang XL, akhirnya direset n install ulang program favorit. Kebanyakan foto sampe stress dianya. Hoho.

Ah, ya, kemarin Ahad (10/5) abis kondangan di Kalasan, aku buka stand bareng Filla’s Craft dan Ken Fabric Painting di Etnika Fest Pasar Ngasem. Lumayan buat piknik.

DSC_0005DSC_0009

DSC_0008

Ya gini kalo anak para Psikolog ketemu Apoteker:
PhotoGrid_1431276849185

Bukannya rame marketing, malah sibuk piknik. Haha..

Apapun, semoga kesibukan berhari-hari kedepan tidak mengurangi fokus persiapan Ramadhan. Happy Reading!

Salima, 13 Mei 2015, 00:24

Fight till The End

Rurouni Kenshin - The Legend Ends
Rurouni Kenshin – The Legend Ends

Akhirnya bisa nonton The Legend Ends, sekuel Rurouni Kenshin (2012) dan Kyoto Inferno (2014). Aku bukan orang yang maniak manga atau anime si, tapi lebih suka film action dan drama daripada horor. Tokoh Kenshin cukup menjadi inspirasi, bagaimana seorang Battosai (assassin) bisa tobat jadi orang baik-baik. Seperti Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid, preman di jaman jahiliyah dan jadi tokoh teladan setelah mendapat hidayah.

Tepat 2 minggu aku mendapat amanah yang cukup berat. Kalo di Standar Pelayanan Farmasi 2014 si, harusnya kerjaan ini dihandle oleh Apoteker yang sudah berpengalaman selama 3 tahun. Aku mah apa? cuma remesan chiki ditiup aja ilang. Belum genap 1,5 tahun menjadi Apoteker, belum banyak pengalaman, masi harus belajar.

Selama dua minggu ini, hampir tiap hari aku pulang dengan sisa-sisa tenaga, lelah, kesal, pusing, lapar, dan berbagai pikiran yang memberatkan. Ada rasa berat ketika mengucap sumpah Apoteker, Agustus 2013 silam. Ya, dunia profesi memang tidak ditaburi bunga-bunga. Banyak kerikil tajam dan jalan berliku di depan sana.

Amanah itu menjaga – Ya, menjaga supaya lebih banyak bersabar, lebih banyak bersyukur dan lebih banyak berkontribusi untuk kebaikan. I’ll try my best.

Kelak, amanah yang akan menjadi saksi bahwa waktu yang diberikan selama di dunia tidaklah dihabiskan untuk bermain-main saja. Semoga. Insyaallah.

Salima, 24 Januari 2015, 22:36