[Book Review] Welcome Home, Rain

Judul Buku: Welcome Home Rain

Penulis: Suarcani

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Genre: Young Adult

Tebal buku: 300 halaman

Terbit : Cetakan I, 2017

 

Halo~ Happy Sunday~

Jogja semalam hujan, tapi pagi ini hujannya berenti.

Minggu ini aku baca 3 buku, setelah beberapa hari lalu aku share buku pertama yang kubaca bulan Desember, hari ini mau share review buku kedua yang kuselesaikan bulan ini. Oke, cek blurbnya dulu ya~

 

“Kamu tahu apa bedanya mimpi dan ambisi, Ghi?”

Ghi tidak mau lagi menyanyikan Welcome Home, Rain, lagu duet ciptaan Kei. Sejak pemuda itu memergoki Kei keluar dari kamar hotel dengan bos perusahaan rekaman terkenal, ia tidak lagi mau berhubungan dengan segala hal tentang gadis yang menjadi kekasih sekaligus pasangan duetnya. Toh, job menyanyi masih mengalir deras untuk Ghi yang sudah lebih dulu tenar dan dipuja banyak orang.

Bagi Kei, skandal itu menutup pintu mimpinya. Bermain piano dan menyanyi tidak lagi dapat dilakukan tanpa menghadirkan perih di hati. Bahkan omelan Mama yang setiap hari mengisi hari-hari mereka dalam kemiskinan setelah Papa bunuh diri tak mampu memaksanya kembali ke dunia musik.

Hingga tawaran duet di panggung pada hari Valentine itu tiba. Baik Ghi ataupun Kei tidak dapat mengelak. Ghi butuh membuktikan kepada fans dan haters yang mengejeknya cengeng karena belum bisa move on. Kei butuh uang untuk melunasi utang Mama yang tak sanggup lepas dari hidup mewah.

Dengan kembali berduet di panggung, mereka berusaha memahami arti mimpi dan ambisi yang sesungguhnya.

Aku beli buku ini akhir Oktober, baca dikit, trus kesalip buku lain, mulai baca lagi akhir November, dan bikin kesal di tengah. Udah terlanjut posting blurbnya, tapi nggak dilanjutin baca kayak punya hutang sama penulisnya. Akhirnya aku lanjutin lagi deh. Daily review bisa dicek di IG @y0nea ya.

Novel ini diawali dengan prolog Kei bertemu seseorang yang membuat hubungannya dengan Ghi hancur. Bahkan kemudian karir menyanyinya juga.
Masuk bab 1 aku dikejutkan dengan Mama Kei yang suka mengeluh dan menyalahkan Kei. Duh, Kei.. kasian bener ya. Dan dilanjutkan dengan fakta Ghi yang belum move on dari Kei.

Setting cerita Januari 2016. Ghi dapat proyek untuk Valentine; duet dengan Kei. Soraya, manajer Ghi cukup kesulitan meyakinkan Ghi dan Kei. Hingga Kei mendapat kabar kalau Mamanya, Mayuni kecelakaan.

Sepulangnya dari Rumah Sakit, Kei dikejutkan dengan kehadiran Sunu. Karena ulah Mayuni, Kei terpaksa diam-diam mengambil proyek duet yang ditawarkan Soraya dan kembali bekerja di cafe Kak Danan.

Sepanjang novel, kalian akan disuguhi masalah berlapis antara Kei dengan Ghi. Aku kesal dengan sikap Ghi yang penuh prasangka buruk. Belum lagi Donna yang bersikap aneh. Ada apa sebenarnya dibalik ini semua? Silahkan baca sendiri ya. Wkwk.

Membaca sepertiga terakhir novel ini seperti mengupas lapisan bawang. Fakta-fakta mengejutkan tentang Kei dan Ghi membuatku tidak bisa berhenti membaca sampai halaman terakhir.

Ini novel pertama kak Suarcani yang kubaca dan aku langsung suka dengan gaya bahasanya. Pov orang ketiga bergantian membahas Kei dan Ghi membuat pembaca bisa memahami konflik secara keseluruhan. Aku sempat berhenti membaca buku ini di tengah, karena aku benar-benar kesal dengan Ghi. Tapi akhirnya kulanjutkan karena ingin tau rahasia Kei. Alur maju-mundur, jadi kita harus membaca detail supaya tidak ada yang terlewat.
Rating: 4/5
Buat yang mencari novel Young Adult dengan tema keluarga dan persahabatan, novel ini layak untuk menemani akhir pekan. Apalagi di musim hujan seperti ini. Terimakasih sudah membaca reviewku. Silahkan baca sendiri novelnya kalau penasaran. Hampir semua review bilang buku ini bagus. Aku sependapat, karena tidak mudah menemukan novel dengan plot twist tidak tertebak seperti ini. Semoga bisa membaca karya kak Suarcani yang lain. Happy reading~

Yogyakarta, 10 Desember 2017
-ne-

Advertisements

[Book Review] Fake Love

Judul Buku: Fake Love; Aku, Suamiku dan Gunpla-nya

Penulis: Shireishou

Penerbit: Elex Media Komputindo

Terbit: Cetakan I, 2017

Tebal Buku: 285 Halaman

Halo~

Ini adalah buku pertama yang aku baca bulan Desember. Akhir November aku ikut Tourian Peeky Book Looking for Gengstagrammer untuk  jadi host reviewer. Beberapa kali mendaftar baru kali ini terpilih. Haha. Alhamdulillah ya, rejeki anak sholihah.Terima kasih banyak atas kesempatannya.

Kenapa aku tertarik membaca buku ini? cek blurb ya.

Delan sang maniak Gunpla memutuskan menikahi Arlin, sang maniak bento, dengan sebuah perjanjian.

Kita menikah hanya untuk menyenangkan orangtua masing-masing. Yang penting tidak saling usik meski tinggal seatap.”

 

Nyatanya dalam pernikahan aneh mereka, muncul tuntutan orangtua yang menginginkan kehadiran cucu secepatnya. Permintaan ini membuat Delan dan Arlin pusing. Bagaimana mungkin segera mempunyai anak, kalau keduanya sibuk dengan ego masing-masing?

Jika menikah tak didasari cinta dan seolah-olah dijadikan pertandingan, apa mereka akan bahagia?

Jika menikah diharuskan karena usia yang terus bertambah atau untuk membungkam pertanyaan yang terus berulang, apakah cinta itu akan muncul dengan sendirinya?

 

Arlin berusaha mencari jawabannya, tapi Delan seakan tidak peduli. Mungkin benar, pernikahan hanya akan mendatangkan masalah baru. Mungkin juga luka yang baru.

 

Elexmedia sudah menerbitkan beberapa buku dengan label Le Mariage di pojok kanan atas, genre dewasa muda dengan tema pernikahan. Walaupun beberapa novel sepintas mirip, tapi tiap judul memiliki cerita yang unik. Dalam Fake Love ini, penulis mampu menggabungkan unsur romance dengan hobi pasangan yang sangat kuat. Hobi yang cewek banget – memasak, dan cowok banget – koleksi mainan robot-robotan. Khas kak Shirei yaitu jejepangan; tokohnya adalah maniak Bento dan maniak Gunpla (Gundam Plastik).

Di halaman prolog kita akan berkenalan dengan Arlina Wulandari Kristianti dan Delano Kienan Pranajaya. Mereka bertemu di dunia maya berkat Mama yang mendaftarkan Arlin ke situs biro jodoh online. Karena berbagai alasan, akhirnya mereka setuju untuk menikah.

Setelah tanggal pernikahan ditentukan, Arlin mendapat e-mail dari Shiyan, teman di blog yang disukainya. Duh, sayang sekali Shiyan, Anda kurang cepat! Arlin tidak mungkin membatalkan pernikahannya dengan Delan hanya karena e-mail Shiyan. Ceritanya sangat masuk akal tanpa ada drama berlebihan.

Pernikahan mereka bisa dibilang unik. Ada yang bisa nebak wedding dress-nya? Dan kado yang mereka dapat tidak umum untuk kado pernikahan. Haha. Bagian awal buku ini sukses membuatku tertawa sampai pipiku sakit.

Besoknya Arlin dibawa ke rumah Delan di Pamulang. Delan cukup mapan dengan gaji yang lumayan tinggi dan rumah yang cukup besar. Wajar sih dia bisa beli gunpla yang harganya wah. Mami Papi Delan dan Mama Papa Arlin hanya mengantarkan sebentar dan langsung pulang.

Belum sempat Arlin beradaptasi dengan rumah barunya, ada tetangga yang mampir. Sebut saja Jeng Elly. Nah, dari sini drama rumah tangga Arlin dan Delan di mulai.

Point of view yang digunakan yaitu orang ketiga dengan Arlin sebagai pusat cerita. Jadi kita bisa memahami yang dirasakan Arlin sebagai istri yang tidak dianggap suaminya. Delan yang sibuk dengan Gunpla-nya, kalau ngomong nggak disaring, jutek, pelit. Duh, aku pengen buang Delan jauh-jauh.

Satu-satunya hal yang membuat Arlin bertahan adalah karena Delan mau menerima bento buatannya, hal yang selama ini menjadi keahlian dan juga ketakutan Arlin selama beberapa tahun terakhir.

Ditengah semangat Arlin membuatkan bento untuk Delan, muncul beberapa masalah dengan Jeng Elly, bahkan melibatkan Bu RT dan tetangga yang lain. Belum lagi kedatangan Mama dan Mami yang meminta cucu setelah 3 bulan berlalu. Arlin mulai memikirkan ulang pernikahannya. Hingga klimaksnya ketika hari-H Gunpla Builders World Competition. Membaca sepertiga terakhir benar-benar mengaduk emosi.

Aku mendapat banyak pelajaran dari novel ini. tentang komunikasi antara suami-istri, pernikahan adalah proses belajar memahami seumur hidup. Ketika menikah, otomatis menjadi anggota masyarakat, maka membaur dengan tetangga adalah hal yang harus dilakukan. Tokoh Jeng Elly mewakili tetangga yang masa gitu~

Oiya, ada Rietma dan Shiyan yang mendukung Arlin dengan cara masing-masing. Aku selalu menantikan scene ketika Shiyan muncul. #TimShiyan

Hal terbaik yang aku dapat dari membaca buku ini adalah bagian Epilog. Kenapa? Silahkan segera jemput buku ini di toko buku terdekat atau toko buku online, karena menikmati novel ini tidak hanya versi cetak, tapi kombinasi dengan versi digital. Sebelum dicetak, novel ini sudah sempat tayang di wattpad. Jadi kalian bisa lihat komen-komen lucu di sana.

Rating: 4/5

Terima kasih atas kesempatan menjadi host review. Semoga kak Shireishou bisa menerbitkan karya lainnya. Happy reading~

Yogyakarta, 7 Desember 2017

-ne-

Hello~

Haloooo.. Yaampun, ternyata udah 2 tahun nggak muncul ya.. hihi.. 2015 sampe awal 2016 kayaknya kadang masih muncul di nolpitu.com, tapi abis itu sibuk persiapan akreditasi KARS dan nggak pernah muncul lagi.

Alhamdulillah, kemarin Senin 4 Desember 2017, sudah survei verifikasi tahun pertama. Tinggal perbaikan untuk tahun kedua dan ketiga.

Btw, Oktober kemarin aku memutuskan untuk ganti status akun Instagram dari akun pribadi jadi akun bookstagram. Jadi beberapa postingan random aku hidden. Banyak hal yang terjadi 2 tahun terakhir. Salah satunya dengan tambahan ratusan koleksi buku. Status register 925 buku. Tapi karena Maret 2017 kemarin aku buka akun jualan buku preloved, fisiknya tinggal 457 buku. Jadi 6 bulan terakhir ini jual buku buat buku baru lagi. 🙂

Nah, kedepan insyaallah aku akan share full review buku di sini ya. Kalau mau baca daily review bisa di instagram @y0nea, dan silahkan cek buku yang udah kurelakan untuk dijual di @salimapreloved.

Buat yang baru gabung, salam kenal ya. Semoga isi blog ini bermanfaat. Thank you~

Kalasan, 5 Desember 2017

-ne-

Rehat

Hello, All. Long time no see.. Well, sejak Ramadhan pindah rumah ke nolpitu.com si ya, jadi blog pribadi mulai dipenuhi sarang laba-laba. Banyak cerita sejak punya rumah baru, komunitas yang isinya orang random semua. Teman lama, mutual friend, sampe ke teman rusuh bareng.

Di antara kesibukan sebagai Apoteker, nolpitu.com semacam tempat melarikan diri. Abis finger print biasanya langsung kabur meet up sama anak-anak. Apalagi kalo weekend atau pas akhir bulan. Dari sembilan kali stress bikin jadwal, mungkin ada setengahnya ngerjain bareng mereka. Rencananya sambil nemenin yang ngerjain tesis si. Tapi ujung-ujungnya malah ngobrol ngalor-ngidul kayak lama nggak ketemu, padahal tiap hari rusuh di grup.

Kadang jenuh si ya dengan aktivitas yang monoton, setiap hari stressornya nambah. Tapi ya namanya pilihan ya, resiko apapun, hadapi aja lah ya. Harus bisa bedakan masalah kerjaan sama urusan pribadi. Capek. Yaya.. Kerjaan nggak ada abisnya.

Akhir Agustus kemarin sempat ngerasain traffic light accident yang menyebabkan cedera lutut kiri dan lengan kanan. September yang katanya ceria, diawali dengan istirahat 3 hari di kosan untuk pemulihan, hampir seminggu anter-jemput ke mana-mana, dan berujung dengan demam tinggi pas Idul Adha.

Dan, Oktober ini diawali dengan beda pendapat masalah seragam Jas Apoteker. Oh, My.. Kapan ya bisa hidup tenang? Dunia.. Dunia…

Kadang kalo udah gini, aku berandai-andai jadi orang kaya yang nggak perlu kerja. Tapi, nggak boleh kan ya? Yasudahlah, disyukuri aja. Masih bisa hidup normal, masih bisa ngerasa capek, masih bisa kesel sama orang, berarti hatinya belum mati.

Tiap pulang kerja cuma bisa berdo’a, “Ya Allah, berikanlah kesabaran yang tak terbatas” Apalagi kalo nyampe kos ternyata berantakan. Doanya nambah lagi, “Berikanlah rejeki halal yang banyak, biar bisa punya rumah sendiri.”

Haha. Begitulah~

Ketika semua dianggap serius, yang ada bakal capek doang. Lurusin niat, hadapi dengan kepala tegak. Be Strong!

Catatan Sepulang Kerja mampir ke Cacaobar,

3 Oktober 2015, 16.31

Hey, June! Hello, Ramadhan!

Sudah memasuki akhir juni! Sudah memasuki hari kelima Ramadhan. Bagaimana Ramadhan kali ini? Ini Ramadhan kedua sebagai Apoteker. Capeknya beda ya dengan jaman kuliah dulu. Kalo dulu abis kuliah sampe jam 3, mesti langsung kabur ke Mardliyyah, ikut kajian sore. Kalo kuliahnya agak siang, abis subuh siap-siap kajian pagi. Sekarang? Hfft..

Tarawih pertama dan kedua abis jaga pagi, pulang jam 4 sore dari RS, abis maghrib tepar. Bangun jam 9, akhirnya tarawih sendiri. 😦

Ramadhan pertama, waktu setelah dzuhur menjadi waktu efektif para karyawan stay di Masjid untuk memperbanyak tilawah.

“Enak ya, Mbak. Temen-temen unit lain bisa tadarusan dulu. Kalo farmasi sih sudah ditunggu pasien.” Kata salah satu rekan kerjaku.

 

Ramadhan kedua, jaga siang di Poli Lt. 3, Alhamdulillah pasiennya nggak terlalu banyak, jadi bisa tilawah 1 juz sambil nunggu Maghrib. Kesempatan yang langka jika kerja di tempat lain, mungkin. Teman-teman satu shift juga begitu khusyuk membaca Al-Qur’an. Pemandangan yang jarang terlihat di hari-hari biasa.

Lepas maghrib, ketika bersiap untuk tarawih, bagian IP mengabarkan bahwa dokter spesialis bedah dalam perjalanan. Kami menunggu dengan tidak sabar, sambil berdoa supaya dokternya datang habis tarawih saja.

Azan Isya’ terdengar, dokternya belum datang. Kami bertiga yang bertugas bergegas keluar ruang farmasi, menutupnya dan menitipkan kunci ke bagian kasir. Kemudian masuk lift. Ting! Pintu lift terbuka, aku sudah keluar menuju farmasi UGD, tiba-tiba muncul mobil dokter bedah di depan pintu masuk UGD.

“Mbak Ne. Ayo naik lagi.”

“Yaah.. ”

Dan kami semacam menjemput dokter yang datang.

 

“Dok, mbok tarweh sik,” ujar Mbak Ria, Asisten Apoteker senior yang sudah mengabdi sejak RS dibuka.

“Meh tekan jam piro?” jawab pak dokter. “Aku kesel e, rung buko. Ngur mbatalke.”

Mau sampe jam berapa emang? Aku capek belum buka, baru sekedar membatalkan puasa. Ah, ya. Dokter mah gitu orangnya. Dilema. Sekedar menyempatkan berbuka saja tidak sempat. Dari satu tempat praktek ke tempat praktek lain, capek di jalan, sudah ditunggu pasien.

 

Benar saja, keluarnya kami dari lift, wajah letih para pasien terlihat lega.

 

**

Dan akhirnya, ketika teman-teman shift siang sudah pulang, aku tarawih sendiri lagi, di ruang farmasi UGD. Menemani petugas jaga malam.

 

Ramadhan ketiga, jaga siang kali ini di farmasi induk. Pelayanan lumayan lancar, ketika azan, kami map pasien sudah selesai di-entry, sehingga kami bisa buka sambil menyiapkan obat. Aku tau keranjang obat yang sudah bisa diserahkan sudah menumpuk. Maka kupercepat makanku, dan segera kudirikan sholat maghrib.

Usai maghrib, aku menyerahkan obat sambil sesekali pasien menanyakan obatnya sudah atau belum.

“Iya, pak. Sudah jadi. Ini saya panggil sesuai urutan ya, Pak.”

Begitulah, akhirnya semua pasien rawat jalan sudah selesai dipanggil. Tumpukan resep rawat inap sudah menumpuk, tapi sudah azan isya’. Hmm..

Seorang perawat bangsal kelas I menelpon, menanyakan obatnya sudah bisa diambil belum? Sudah, jawabku.

Sayang sekali, jika kali ini lagi-lagi terlewat sholat isya’ dan tarawih berjama’ah, pikirku. Maka selesai menyerahkan obat pada perawat, aku pamit pada teman-teman untuk ke masjid. Biarlah resep rawat inap di-handle mereka saja.

Penceramah dan imam kali ini salah satu Tim IT. Walaupun beliau terlihat kocak, tapi gitu juga Ustadz (peace, Pak). Beliau salah satu ustadz favorit di kalangan karyawan, suka menyampaikan materi mentoring dengan bercerita. Materi ceramahnya tentang keutamaan Al-Qur’an di bulan Ramadhan dan bagaimana pengaruh Al-Qur’an membuat banyak orang menjadi mualaf.

Satu hal yang membuatku terenyuh. Ketika beliau menjadi imam, anaknya minta gendong. Demi apa?

 

Ramadhan keempat, petugas sahur cuma masak nugget dan menyiapkan yogurt. Dan itu membuat teman-teman tidak semangat. Aku akhirnya masak mie goreng. Yaelah, baru hari ke-empat, udah lesu. *sigh*

Habis subuh aku membuat farewell greeting, semacam kenang-kenangan untuk teman, mencuci dan pergi ke forum pekanan sampai dzuhur. Lepas dzuhur istirahat dan abis ashar membantu yang piket masak.

Tarawih kelima akhirnya bisa di masjid dekat kosan.

 

Ramadhan kelima, alhamdulillah, yang piket sahur masak sop dan Fuyunghai, daebak!

Hari ini masuk siang jadi pagi bisa istirahat sebelum menghadapi Senin sore yang biasanya rame. Doakan nanti bisa tarawih di masjid ya!

 

Salima, 5 Ramadhan 1436 H/ 22 Juni 2015, 12:42